Blog ini berisi tentang kiat menuju sukses Anda

Jumat, 02 April 2010

Pasar Sebagai Sumber Belajar ( pembelajaran inovatif )

Oleh KARYATUN,S.Pd.
Guru SDN Kedungprahu,Padas,Ngawi
Sumber: Jawa Pos Kamis,7 Februari 2008

Lokasi pasar yang berdekatan dengan sekolah adalah sumber beberapa permasalahan.Namun,dibalik itu,pasti juga bisa menjadi sumber belajar yang nyata.Bahkan melalui pasar,guru bisa memupuk rasa kepedulian social siswa kepada sesame.

Lokasi sekolah yang berdekatan dengan pasar memang banyak menimbulkan masalah.Mulai keamanan,kenyamanan,belajar-mengajar,hingga masalah kebersihan,lebih-lebih jika hal itu terjadi di pedesaan,yang notabene sebagian besar masyarakat kurang peduli pada tiga hal tersebut.Kondisi itu menuntut perhatian lebih dari pengelola sekolah,terutama saat pasar ramai.(pasar di desa biasanya buka hanya lima hari dalam seminggu ).

Ada beberapa keadaan yang mau tidak mau harus dilakukan guru dalam menghadapi kondisi sekolah yang berdekatan dengan pasar.Misalnya,guru ikut mengawasi para siswa ketika berangkat atau pulang sekolah.Bersama satpam/penjaga sekolah,secara bergiliran,guru mesti berangkat lebih pagi untuk membantu menyeberangkan anak-anak.Sebab,saat pasar mulai mulai ramai,lalu lintas padat.Apalagi pengalaman anak tentang tata cara menyeberang di jalan sangat kurang.

Aktivitas pasar yang ramai membuat aktivitas pembelajaran terganngu.Apalagi ,tak jarang ada pedagang yang menawarkan dagangannya dengan pengeras suara.Akibatnya konsentrasi siswa dan guru terpecah.Belum lagi bau busuk sampah dan air selokan di sekitar pasar yang sering terbawa angin.

Pada musim panen,biasanya terjadi peningkatan aktivitas di pasar.Orang tumplek blek menyerbu pasar.Hal ini mengakibatkan pasar meluber hingga ke badan jalan,tak peduli di dekatnya ada sekolah.Kondisi tersebut di perparah dengan parker kendaraan pedagang dan pembeli,yang tak jarang sampai di depan sekolah.Masalah bertambah runyam bila musim penghujan tiba.Tanah becek dibawa anak-anak masuk ke kelas.Sempurnalah penderitaan sekolah ini.

Bagaimana sebaiknya sekolah menyikapi kondisi itu ? Meminta relokasi sekolah atau pasar tampaknya imposible.Sebab ongkos social-ekonominya besar.Belum lagi waktu yang dibutuhkan tidak bisa sekejap mata.
Yang mungkin adalah bersikap saling pengertian dan bijak.Bahkan,sebagai pendidik,kita bisa memanfaatkan pasar sebagai sumber belajar.Tidak terbatas pada aspek kognitif bidang akademi.Kita bisa memanfaatkan sisi positif pasar sebagai sarana untuk mengasah aspek afektif (sikap,nilai-nilai,kepribadian positif ) sekaligus aspek-aspek psikomotornya.

Bagaimana caranya ?. Pada kondisi tertentu,,yang sifatnya darurat,pasar adalah tambang uang (dana) untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat social.Misalnya,ketika terjadi bencana alam yang melanda saudara-saudara kita di tempat lain.
Mengarahkan siswa untuk mengemis ? tidak ! sebab persepsi mengemis akan hilang jika guru pandai membekali anak dengan motivasi. Dengan metode problem solving,siswa diajak mencari solusi pemecahan masalah untuk membantu beban para korban bencana.Barulah secara perlahan,kita giring mereka menuju pembentukan pasukan pramuka sukarelawan.
Dengan perencanaan dan persiapan yang matang,sebar pasukan pramuka sukarelawan tersebut ke pasar dengan fasilitas/alat bertuliskan” dana social korban banjir” guru cukup mengawasi dari kejauhan.

Langkah selanjutnya,masinhg-masing regu (@ 2 anak ) menghitung dana yang bisa dikumpulkan.Pada kegiatan itu,guru bisa menggali kesan mereka selama bertugas.Misalnya,perasaan menjadi sukarelawan,suka duka meminta kerelaan para pedagang dan pembeli untuk membantu korban bencana, dan sebagainya.
Para siswa pasti banyak mendapat pengalaman baru yang berkesan.Ada yang lucu,ada pula yang membuat nyali mereka ciut.Apalagi bila yang mereka minta pedagang yang marah-marah.Dari situ kita bisa melihat ekspresi puas di wajah anak-anak.
Untuk itu,beri mereka penghargaan, dengan mengajaknya menyalurkan dana tertsebut secara langsung ke lokasi bencana.Dalam kegiatan itu guru bisa menjelaskan bahwa apa yang telah mereka lakukan sangat berarti bagi para korban bencana tersebut.Pengorbanan berupa tenaga,waktu,pikiran,harta,serta rasa malu dari para siswa tidak seberapa jika dibandingkan dengan penderitaan korban bencana.Jangan lupa para guru pantas mengucapkan terimakasih kepada anak-anak karena mereka telah menjadi pahlawan kemanusiaan.

Banyak manfaat serta hikmah dari kegiatan di atas.Secara tidak langsung,guru telah menanamkan sikap rela berkorban,tolong-menolong,jujur,dan kerja keras. Kita juga telah member siswa pengalaman yang sangat berkesan,yang tidak akan terlupakan hingga tua kelak. Yang tak kalah penting,kita telah memupuk rasa kepedulian social anak-anak terhadap penderitaan sesame makhluk Tuhan.Bukankah menanamkan sifat terpuji yang diawali sejak dini itu lebih baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar