Blog ini berisi tentang kiat menuju sukses Anda

Minggu, 14 Februari 2010

Berbicara dan Pembelajarannya


Kegiatan Belajar 1 : Konsep Berbicara

Dalam kegiatan belajar ini Anda akan mengkaji beberapa pokok permasalahan , yaitu pengertian berbicara, tujuan berbicara, jenis-jenis berbicara, teknik berbicara, dan factor-faktor keberhasilan berbicara.

Dengan demikian, setelah mempelajari Kegiatan Belajar 1 ini, Anda diharapkan dapat menjelaskan pengertian berbicara, menyebutkan tujuan berbicara, menyebutkan jenis-jenis berbicara, menjelaskan teknik berbicara, dan menjelaskan factor-faktor keberhasilan berbicara.

2.1 Pengertian Berbicara

Banyak pakar memberikan batasan tentang berbicara, di antaranya Tarigan (1981:15) mengatakan bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Sejalan dengan Tarigan , Anton M. Moeliono dkk.(1988:114) mengatakan bahwa berbicara adalah berkata, bercakap, berbahasa, melahirkan pendapat dengan perkataan. Demikian juga Djago Tarigan (1998:34) mengatakan bahwa berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. Dari tiga pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa berbicara adalah kemampuan seseorang menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan dengan menggunakan bahasa lisan.

Berbicara bukan hanya sekadar pengucapan bunyi-bunyi atau kata-kata. Berbicara adalah suatu alat untuk mengomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak. Berbicara merupakan instrumen yang mengungkapkan kepada penyimak hampir-hampir secara langsung apakah sang pembicara memahami atau tidak baik bahan pembicaraannya maupun para penyimaknya; apakah dia bersikap tenang serta dapat menyesuaikan diri atau tidak, pada saat dia mengkomunikasikan gagasan-gagasannya; dan apakah dia waspada serta antusias atau tidak ( Mulgrave dalam Tarigan 1981:15).

Dipandang dari segi bahasa, menyimak dan berbicara dikategorikan sebagai keterampilan berbahasa lisan. Dari segi komunikasi, menyimak dan berbicara diklasifikasikan sebagai komunikasi lisan. Melalui berbicara orang menyampaikan informasi melalui ujaran kepada orang lain. Melalui menyimak orang menerima informasi dari orang lain. Kegiatan berbicara selalu diikuti kegiatan menyimak atau kegiatan menyimak pasti ada di dalam kegiatan berbicara. Dua-duanya fungsional bagi komunikasi lisan, dua-duanya tak terpisahkan. Ibarat mata uang, sisi muka ditempati kegiatan berbicara sedang sisi belakang ditempati kegiatan menyimak. Sebagaimana mata uang tidak akan laku bila kedua sisinya tidak terisi, maka komunikasi lisan pun tak akan berjalan bila kedua kegiatan tidak berlangsung saling melengkapi. Pembicara yang baik selalu berusaha agar penyimaknya mudah menangkap isi pembicaraannya

Keterampilan berbicara juga menunjang keterampilan menulis dan membaca. Bukankah berbicara pada hakikatnya sama dengan menulis, paling tidak dalam segi ekspresi atau produksi informasi? Hasil berbicara bila direkam dan disalin kembali sudah merupakan tulisan.dan ini sudah merupakan wujud keterampilan menulis. Penggunaan bahasa dalam berbicara banyak kesamaannya dengan penggunaan bahasa dalam teks bacaan. Apalagi organisasi pembicaraan kurang lebih sama dengan pengorganisasian isi bahan bacaan.

2.2 Tujuan Berbicara

Menurut Tarigan (1998:49) tujuan pembicara biasanya dapat dibedakan atas lima golongan yakni:

1) Berbicara untuk Menghibur

Berbicara untuk menghibur para pendengar, pembicara menarik perhatian pendengar dengan berbagai cara, seperti humor, spontanitas, kisah-kisah jenaka, dan sebagainya. Menghibur adalah membuat orang tertawa dengan hal-hal yang dapat menyenangkan hati. Menciptakan suatu suasana keriangan dengan cara menggembirakan. Sasaran diarahkan kepada perisiwa-peristiwa kemanusiaan yang penuh kelucuan dan kegelian yang sederhana. Media yang sering dipakai dalam berbicara untuk menghibur adalah seni bercerita atau mendongeng ( the art of story-telling), lebih-lebih cerita yang lucu, jenaka, dan menggelikan. Pada saat pembicara atau si tukang dongeng beraksi, para partisipan dapat tertawa bersama-sama dengan penuh kegembiraan dan kekeluargaan atau persahabatan.

2) Berbicara untuk Menginformasikan

Berbicara untuk tujuan menginformasikan dilaksanakan kalau seseorang berkeinginan untuk :

1. menerangkan atau menjelaskan sesuatu proses;

2. memberi atau menanamkan pengetahuan;

3. menguraikan, menafsirkan, atau mengiterpretasikan sesuatu hal;

4. menjelaskan kaitan, hubungan, relasi antara benda,hal, atau peristiwa.

3) Berbicara untuk Menstimulasi

Berbicara untuk tujuan menstimulasi pendengar jauh lebih kompleks dari berbicara untuk menghibur atau berbicara untuk menginformasikan, sebab pembicara harus pintar merayu, mempengaruhi, atau meyakinkan pendengarnya. Ini dapat tercapai jika pembicara benar-benar mengetahui kemauan, minat, inspirasi, kebutuhan, dan cita-cita pendengarnya. Berdasarkan keadaan itulah pembicara membakar semangat dan emosi pendengarnya sehingga pada akhirnya pendengar tergerak untuk mengerjakan apa-apa yang dikehendaki pembicara.

4) Berbicara untuk Meyakinkan

Tujuan utama berbicara untuk meyakinkan ialah meyakinkan pendengarnya akan sesuatu. Melalui pembicaraan yang meyakinkan, sikap pendengar dapat diubah misalnya dari sikap menolak menjadi sikap menerima. Misalnya bila seseorang atau sekelompok orang tidak menyetujui suatu rencana, pendapat atau putusan orang lain, maka orang atau kelompok tersebut perlu diyakinkan bahwa sikap mereka tidak benar. Melalui pembicara yang terampil dan disertai dengan bukti ,fakta contoh, dan ilustrasi yang mengena, sikap itu dapat diubah dari tak setuju menjadi setuju.

5). Berbicara untuk Menggerakkan

Di dalam berbicara atau berpidato menggerakkan massa yaitu pendengar berbuat, bertindak, atau beraksi seperti yang dikehendaki pembicara merupakan kelanjutan, pertumbuhan, atau perkembangan berbicara untuk meyakinkan. Dalam berbicara untuk menggerakkan diperlukan pembicara yang berwibawa, panutan, atau tokoh idola masyarakat. Melalui kepintarannya berbicara, kelihatannya membakar emosi, kecakapan memanfaatkan situasi, ditambah penguasaannya terhadap ilmu – jiwa massa, pembicara dapat menggerakkan pendengarnya. Misalnya, bung Tomo dapat membakar semangat dan emosi para pemuda di Surabaya, sehingga mereka berani mati mempertahankan tanah air.

2. 3 Jenis-Jenis Berbicara

Dalam interaksi berbicara sehari-hari, sering kita memperhatikan; ada diskusi, ada percakapan, ada pidato menjelaskan, ada pidato menghibur, ada ceramah, ada bertelepon, dan sebagainya. Mungkin Anda bertanya dalam hati, mengapa ada berbagai jenis kegiatan berbicara seperti itu. Jawabannya ada lima landasan yang digunakan dalam mengklasifikasi berbicara, yakni:

1. tujuan,

2. situasi,

3. metode penyampaian,

4. jumlah pendengar, dan

5. peristiwa khusus.

Berdasarkan hal itu, maka berbicara dapat dilihat dari tiga aspek, yakni (1) fungsional, (2) memperhatikan jumlah pembicaranya, serta (3) konsep dasar berbicara, maka jenis-jenis berbicara dapat dilihat, sebagai berikut.

a. Berbicara berdasarkan tujuannya.

1. Berbicara memberitahukan, melaporkan dan menginformasikan

Berbicara termasuk bagian ini untuk bertujuan memberitahukan, melaporkan dan menginformasikan dilakukan jika seseorang menjelaskan sesuatu proses, menguraikan, menafsirkan sesuatu, menyebarkan dan menamkan sesuatu, dan sebagainya.

2. Bicara membujuk, mengajak, meyakinkan

Yang termasuk dalam hal ini, jika pembicara berusaha membangkitkan inspirasi, kemauan atau meminta pendengarnya melakukan sesuatu. Misalnya, guru membangkitkan semangat dan gairah belajar siswanya melalui nasihat-nasihat. Dalam kegiatan yang masuk bagian ini si pembicara harus pintar merayu, mempengaruhi dan meyakinkan pendengarnya. Oleh karena itu, ada sebagian pandangan yang mengatakan orang pintar merayu, memiliki talenta dan retorika yang memikat. Orang-orang yang pintar merayu dan meyakinkan bisa membuat sikap pendengar dapat diubah, dari menolak menjadi menerima. Bukti, fakta atau contoh yang tepat yang disodorkan dalam pembicaraan akan membuat pendengar menjadi yakin.

3. Bicara menghibur

Bicara untuk menghibut memerlukan kemampuan menarik perhatian pendengar. Suasana pembicaraan bersifat santai dan penuh canda. Humor dan segar, baik dalam gerak, cara bicara dan menggunakan kalimat memikat pendengar. Berbicara menghibur biasanya dilakukan pelawak dalam suatu pentas. Pada waktu dahulu para pendongeng adalah orang-orang yang pintar berbicara menghibur melalui cerita yang disampaikannya.

b. Berbicara berdasarkan situasinya

1. Berbicara formal

Dalam situasi formal, pembicara dituntut harus bicara formal.

Misalnya, ceramah, wawancara, mengajar untuk para guru.

2. Berbicara informal

Dalam situasi formal, pembicara dituntut harus bicara informal.

Misalnya, bersenda gurau, bertelepon

c. Berbicara berdasarkan cara penyampaiannya

1. Berbicara mendadak (spontan)

Berbicara mendadak terjadi jika seseorang tanpa direncanakan

Sebelumnya harus berbicara di depan umum.

2. Berbicara berdasarkan catatan

Dalam berbicara seperti ini, pembicara menggunakan catatan kecil pada

kartu-kartu yang telah disiapkan sebelumnya dan telah menguasai materi

pembicaraan sebelum tampil di muka umum

3. Berbicara berdasakan hafalan

Pembicara menyiapkan dengan cermat dan menulis dengan lengkap

bahan pembicaraannya. Kemudian dihafalkannya kata demi kata,

kalimat demi kalimat, dan seterusnya.

4. Berbicara berdasarkan naskah

Pembicara telah mempersiapkan naskah pembicaan secara tertulis dan

dibacakan pada saat berbicara.

d. Berbicara berdasarkan jumlah pendengarnya

1. Berbicara antarpribadi (bicara empat mata)

2. Berbicara dalam kelompok kecil ( 3 – 5 orang)

3. Berbicara dalam kelompok besar (massa). Berbicara seperti ini terjadi apabila

menghadapi kelompok besar dengan jumlah pendengar yang besar,

seperti pada rapat umum, kampanye, dan sebagainya.(Djago Tarigan, 1998:

53-54)

e. Berbicara berdasarkan Peristiwa Khusus

1. Pidato Presentasi

2. Pidato Penyambutan

3. Pidato Perpisahan

4. Pidato Jamuan (makan malam)

5. Pidato Perkenalan

6. Pidato Nominasi (mengunggulkan) ( Logan dalam Djago Tarigan, 1998:56)

2.4 Teknik Berbicara

Djago Tarigan (1998:154-180) mengetengahkan tentang metode dan teknik pembelajaran berbicara sebagai berikut :

A. Ulang – Ucap

Model ucapan adalah suara guru atau rekaman suara guru. Model ucapan yang diperdengarkan kepada siswa harus dipersiapkan dengan teliti. Model ucapan ini diperdengarkan di depan kelas, siswa mendengarkan dengan teliti lalu mengucapkannya kembali sesuai dengan model.

Contoh Fonem

Contoh Kata

Contoh Kalimat

Guru: /a/,/i/,/m/,/n/

Siswa: /a/,/i/,/m/,/n/

Guru : provokator

Siswa: provokator

Guru : Selamat pagi, Kak

Siswa: Selamat pagi, Kak

B. Lihat – Ucap

Teknik ini digunakan untuk merangsang siswa mengekpresikan hasil pengamatannya. Yang diamati adalah benda, gambar benda, dan duplikat benda.

Contoh:

Guru : memperlihatkan bola tenis

Siswa : bola tenis

C. Deskripsi

Teknik mendekripsi/menggambarkan/melukiskan/memerikan sesuatu secara verbal yang digunakan melatih siswa berani berbicara atau mengekspresikan hasil pengamatannya terhadap sesuatu.

Contoh:

Guru : (memperlihatkan pena kepada siswa dalam beberapa menit agar

siswa mengamati)

Siswa: (Setelah memperhatikan, menjelaskan benda yang dilihatnya)

Bentuknya bulat, memanjang, berwarna merah, salah satu

ujungnya dapat dipencet, dan ujung yang lain mengeluarkan

semacam ujung panah. Fungsinya sebagai alat menulis.

D. Menjawab Pertanyaan

Teknik ini digunakan untuk melatih siswa berbicara. Melalui pertanyaan guru siswa harus terpancing untuk menjawabnya dengan baik, benar, tepat. Untuk itu pertanyaan harus disiapkan dengan cermat, tepat sasaran, dan merangsang. Misalnya menanyakan identitas diri.

Contoh:

Guru : Siapa namamu?

Siswa : Nama saya Rendy.

Guru : Berapa usiamu?

Siswa : Usia saya 13 tahun.

E. Bertanya

Dengan bertanya, siswa dapat menyatakan keingintahuannya tehadap sesuatu hal. Melalui pertnyaan yang sistematis, siswa dapat menemukan yang diinginkannya. Contoh:

Guru : (akan mengajarkan materi paragraf. Sebelum pembelajaran

dimulai, siswa mengajukan pertanyaan).

Siswa : Apakah yang dimaksud paragraf itu, Pak?

Guru : (meminta siswa yang tahu untuk menjelaskan)

Siswa : Apakah paragraf itu sama dengan alinea, Pak?

Guru : (menjelaskan pengertian dan penggunaan paragraf)

F. Pertanyaaan Menggali

Teknik ini digunakan untuk merangsang siswa banyak berpikir. Di samping memancing siswa berbicara, pertanyaan menggali dapat digunakan untuk menilai kedalaman dan keluasan pemahaman siswa terhadap suatu masalah. Kegiatan ini cocok karena dalam menyusun pertanyaan diperlukan penalaran, menguasai sebab akibat , berpikir sistematis.

Contoh:

Guru : Sepulang dari sekolah, apa saja yang kamu kerjakan ?

Siswa : Sepulang sekolah, saya makan siang. Kemudian pergi ke taman

bacaan. Di sana saya bertugas sebagai penjaga taman bacaan

itu. Itu berlangsung sampai sore. Bila peminjam banyak, saya

baru dapat pulang pukul 19.00. Karena lelah biasanya saya tak

dapat lagi mengerjakan pekerjaan rumah.

G. Bercerita

Kegiatan bercerita untuk menuntun siswa menjadi pembicara yang baik. Lancar bercerita, berarti lancar berbicara. Dalam bercerita siswa dilatih berbicara jelas, intonasi tepat, urutan kalimat sistematis, menguasai massa pendengar, dan berperilaku menarik.Berani membawakan cerita sesuai dengan isi (menirukan suara, perilaku tokoh, dan sebagainya), sehingga emosi, imajinasi pendengar terangsang karenanya.

Contoh:

Seorang siswa menceritakan pengalamannya pada suatu pagi. Ceritanya demikian:

Sial Benar Nasibku

Pagi ini, saya terlambat bangun. Sebebnya? Jam beker yang baiasanya membangunkan saya tidak berdering. Rupanya tadi malam saya lupa memutarnya.

Cepat-cepat saya mandi. Tubuh sudah basah karena siraman air, sabun mandi kebetulan pula sudah habis. Terpaksalah saya mandi tanpa sabun. Saya sarapan. Astaga, nasi hangus pula. Apa boleh buat, terpaksa saya makan nasi hangus.

Selesai berpakaian, aku pergi ke sekolah. Kendaraan umum selalu penuh. Akhirnya, saya dapat juga kendaraan yang agak kosong penumpangnya. Sayang, di tengah jalan, ban kendaraan itu kempes.

Setelah ban kendaraan diganti, perjalanan ke sekolah dilanjutkan. Turun dari kendaraan, saya disambut hujan lebat, bagai air ditumpahkan dari langit.

Dalam keadaan basah kuyup saya tiba di sekolah. Saya terlambat hampir satu jam. Saya disambut omelan kepala sekolah. Sungguh sial benar nasibku hari ini.

H. Melanjutkan Cerita

Teknik ini dilaksanakan oleh dua orang atau lebih. Pelaku harus siap mengikuti jalan cerita sejak awal sampai dengan selesai agar penyambungan cerita tepat. Menyimak, kreatif, berpikir, dan nalar dituntut dalam hal ini. Penerapannya diawali oleh guru/murid bercerita secara lisan. Setelah separo cerita, pencerita berhenti. Pencerita berikutnya melanjutkan cerita. Agar seluruh siswa terikat dalam kegiatan ini, guru secara acak menugasi siswa untuk melanjutkan cerita yang disimaknya. Hal ini ditempuh guru agar semua siswa dapat melanjutkan cerita yang disimaknya.

Contoh:

Guru : Pekarangan sekolah kami terurus baik. Rumput-rumput di

halaman dipangkas rapi. Tanaman hias tumbuh subur. Pagar

halaman sudah diperbaiki dan dicat dengan warna coklat.

Parit-parit di sekeliling sekolah diperlebar dan diperdalam, lalu

disemen.

Siswa 1 : (Melanjutkan)

Gedung sekolah kami seperti baru kembali. Atap genteng yang

pecah diganti. Dindingnya diplester kembali, lalu dicat dengan

warna abu-abu muda. Pintu-pintu dan kunci-kunci yang rusak

diganti.

Siswa 2 : (Menyudahi)

Peralatan pembelajaran pun ditambah dengan alat peraga dan

media yang beragam. Meja dan kursi yang sudah rusak di

setiap kelas diganti dengan yang baru. Buku-buku pelajaran

di perpustakaan dilengkapi, dan alat labor IPA pun

ditambah. Keadaan sekolah kami kini menjadi lebih baik,

lebih lengkap, dan menyenangkan.

I. Reka Cerita Gambar

Teknik ini digunakan agar siswa terangsang, terdorong untuk bercerita. Untuk ini gambar digunakan sebagai media, Melalui kegiatan ini diharapkan siswa berani bercerita/terampil bercerita. Untuk itu sajian gambar harus menarik, merangsang emosi / imajinasi siswa untuk menanggapinya. Sajian materi diupayakan sesuai dengan lingkungan, minat dan perhatian,bermanfaat bagi perkembangan pengetahuan dan pengalaman siswa. Melalui kegiatan ini akan tampak kemampuan penghayatan dan penafsiran siswa terhadap gambar.

Contoh:

Guru : memperlihatkan gambar kegiatan kerja bakti di kampung.

Siswa : menceritakan isi gambar

J. Memberi Petunjuk

Kegiatan ini dimaksudkan agar siswa memiliki keterampilan berbicara bertarap tinggi karena memberi petunjuk berarti berbicara secara jelas dan terarah. Guru dalam memberikan petunjuk kepada siswa harus (1) petunjuk guru hendaknya singkat, padat, jelas, dan mudah dipahami.(2)petunjuk guru tertuang dalam stuktur kalimat yang mudah dipahami, menggunakan kata pilihan tepat sasaran, tidak mendua makna. (3)petunjuk guru hendaknya tersusun secara sistematis, urut, nasional. Kegiatan memberi petunjuk hendaknya mengacu pada pilihan faktor-faktor lingkungan siswa, kebutuhan siswa, kemampuan siswa, dan minat siswa.

Contoh :

Guru : Coba kamu jelaskan bagaimana cara menuju sekolah dari

rumahmu masing- masing!

Siswa : Saya tinggal di jalan Imam Bonjol, naik angkot ke terminal

kota sampai di persimpangan Jalan Sudirman dengan Jalan

Singamangaraja turun dan berjalan ke arah Jalan Sudirman

setelah kurang lima puluh meter di sana akan terlihat SMP

Harapan Bangsa itulah sekolah saya .

K. Parafrase

Parafrase berarti alih bentuk, misalnya memprosakan puisi atau sebalinya mempuisikan prosa. Kegiatan ini dibelajarkan agar siswa dapat mengubah atau mengalih bentuk dari prosa menjadi puisi atau sebaliknya. Artinya dapat menceritakan puisi dengan bahasa prosa dan sebaliknya. Siswa bergairah melaksanakan kegiatan ini, bila guru mahir melaksanakannya. Puisi atau prosa yang akan diprosakan harus dipilih dengan cermat sehingga dapat merangsang menumbuh-kembangkan minat, dan sebagainya sehingga siswa termotivasi untuk melaksanakannya. Untuk itu harus dipilih yang sesuai dengan sikon, lingkungan, kemapuan, pengetahuan, pengalaman anak. Karenanya guru harus dengan matang pembelajaran puisi, prosa secara sistematis, terinci, terarah.

Guru mempersiapkan sebuah puisi yang cocok bagi kelas tertentu. Guru membacakan puisi itu dengan suara jelas, intonasi yang tepat, dan kecepatan normal. Siswa menyimak pembacaan dan kemudian menceritakannya dengan kata-kata sendiri.

Contoh :

Guru : Dengarkan baik-baik pembacaasn puisi berikut ini, kemudian ceritakan kembali isinya dengan kata-katamu sendiri!

Guruku

Kau seorang pembimbing

Kaulah seorang pendidik

Kaulah orang yang berbibawa

Tanpa kau

Dan

Karena engkau

Aku sekarang jadi pintar

Kepadamu

Kuucapkan terima kasih

Karena kau dengan kasih sayang

telah memberiku

pengetahuan, keterampilan dan sopan santun

ku doakan untukmu

semoga

Tuhan Yang Maha Esa membalas

Atas jasa-jasa dan kebaikanmu

WIDYAWARDANA

Siswa : (menyimak lalu menjelaskan kembali isi puisi )

Guruku , engkau telah mendidik dan mengajar aku sehingga pintar, berpengetahuan, berketerampilan dan sopan. Kuucapkan terima kasih atas jasa-jasamu. Kudoakan semoga Tuhan membalas jasa-jasamu.

L. Percakapan

Percakapan merupakan pertukaran pendapat, pikiran tentang suatu topik tertentu antara pembicara-pembicara. Dalam kegiatan terjadi perlaihan peran yaitu pembicara menjadi penyimak, penyimak menjadi pembicara. Melalui kegiatan ini diharapkan siswa berkemampuan menyampaikan sesuatau kepada siapa saja, kapan saja, di mana saja. Dalam keiatan ini biasanya dijumpai:

(1). Suasana akrab, spontanitas berbicara.

(2). Topik pembicaraan suatu hal yang disepakati bersama

(3). Topik yang dibahas merupakan kepentingan bersama

(4). Percakapan merupakan dasar berbicara / pengembangan berbicara

(5). Guru harus sering melatih siwa untuk melasanakan kegiatan

percakapan.

Contoh :

Rudy : ”Suara saya sumbang saja. Karena itu nilai menyanyi saya

rendah”.

Ani : ”Berapa nilai menyanyimu,Rudy?”

Rudy : ”Akh, malu saya menyebutnya.”

Ani : ”Masa malu pada teman. Berapa nilai menyanyi yang kau

peroleh?”

Rudy: Cuma enam, kau mendapat nilai berapa Ani?”

Ani : ”Delapan.”

Rudy : ”Bagus benar! Berapa nilai menyanyimu,Tini?”

Tini : ” Saya dapat sembilan.”

Rudy : ”Bagus sekali!Nilai menyanyi kalian bagus-bagus. Saya harus

banyak berlatih.” Lonceng berbunyi. Mereka masuk kelas

kembali.

M. Bertelepon

Keterampilan kegiatan ini dibelajarkan agar siswa terampil menggunakan telepon, tahu akan fungsi dan peranan telepon. Siswa diharapkan dapat bertelepon dengan baik, benar, tepat sasaran dan tahu serta memahami bahwa telepon dapat digunakan untuk berbagai keperluan terutama berita penting (menghubungi relasi, keluarga, sahabat, dan seterusnya melalui berbicara tidak tatap muka / jarak jauh).Ciri khas bertelepon ialah berbicara jelas, singkat, dan lugas. Faktor waktu juga harus diperhatikan.Bertelepon dengan bercakap-cakap memiliki kesamaan yaitu kegiatan berbicara dan perbedaan pada jarak, interaksi, waktu.

Contoh : Guru langsung memperegakan bertelepon denga siswa.

N. Wawancara

Wawancara atau interviu adalah percakapan dalam bentuk tanya jawab. Untuk ini dipersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada orang tertentu untuk masalah tertentu. Pertanyaan-pertanyaan sajian harus rasional, tepat sasaran, singkat, padat, jelas. Melalui jawaban akan pertanyaan didapatkan gambaran watak, adat, sifat, keahlian, pengalaman, pengetahuan dan sebagainya akan orang yang akan diwawancarai. Melalui kegiatan ini siswa akan terlatih dalam menyiapkan pertanyaan yang terarah, dalam mengajukan pertanyaan dengan jelas, tepat sasaran, rasional, singkat, padat serta dengan bahasa, intonasi, nada, irama, gerak yang selaras, serasi dengan mengajukan pertanyaan.

Contoh : Adi siswa kelas VII yang menjadi juara umum dan mencapai nilai rata-rata 9,3. Wartawan majalah anak-anak datang mewawancarainya.

Wartawan : Bagaimana perasaan Adi setelah menjadi juara umum di

sekolah ini?

Adi : Senang , gembira, dan bangga.

Wartawan : Berapa jam Anda belajar dalam satu hari?

Adi : Kurang lebih tiga jam satu hari kecuali hari Sabtu dan hari

Minggu.

Dst.

O. Bermain Peran

Penguasaan bahan pembelajaran melalui pengembangan penghayatan dan imajinasi. Teknik bermain peran sangat cocok untuk pembelajaran berbahasa (akan tergambar jelas adanya). Dalam bermain peran setiap siswa yang terlibat harus menghayati peran dalam ragam segi (gerak indra, berbahasa, dan seterusnya). Hal tersebut disebabkan fungsi dan peran tokoh yang diperankannya berkarakteristik berbeda (anak muda, orang tua, dokter, petani, pedagang dan sebagainya). Untuk itu peranan siswa dalam bermain peran menuntut ragam hal (gerak jasmani/panca indra, bahasa dan seterusnya).

Contoh :

Guru : Mari kita coba memerankan penjual sayuran dan

pembelinya.Ani sebagai pembeli dan Anton sebagai penjual.

Penjual : Ini Neng, bayam Taiwan .Besar-besar, segar , dan penuh

vitamin.

Pembeli: Berapa harganya seikat.

Penjual : Seratus rupiah, Neng!

Pembeli: Ah, mahal amat.

Penjual : Harga sih, bagaimana barangnya, Neng.

Pembeli: Biasanya hanya lima puluh rupiah seikat.

Penjual : Itu sih bayamlokal, Neng!

Kecil, kerdil dan kurang segar lagi.

Pembeli:Bayam ya tetap bayam.

Taiwan kek, lokal kek, sama saja.

Penjual : Tidak, Neng. Bayam Taiwan lebih bagus dan bergizi.

Pembeli: Tiga ikat dua ratus.

Penjual : Belum sampai modalnya, Neng.

Pembeli: Kalau tiga ikat dua ratus, saya ambil.

Penjual : Mau berapa ikat, Neng?

Pembeli: Tiga ikat saja.

Penjual : Ambillah, hitung-hitung pelaris.

Pembeli: (Mengeluarkan uang dua ratus dan mengambil tiga ikat

bayam).

Penjual : Terima kasih, Neng!

Pembeli: Sama-sama.

(Djago Tarigan dkk. 1998:174)

P. Dramatisasi

Bermain drama berarti mementaskan lakon, cerita, karakter sesuatu.Biasanya cerita yang dilakonkan sudah dalam bentuk drama. Guru dan siswa mempersiapkan naskah atau skenario, pelaku, dan perlengkapan. Makna kata-kata dapat didramatisasi (orang marah akan tersirat gerak-geriknya). Teknik dramatisasi dilaksanakan dengan mementaskan dan melaksanakan sifat/karakter pelaku drama. Melalui dramatisasi siswa dilatih mengekspresikan perasaan dan pikirannya dalam bentuk bahasa lisan.

Contoh : Guru dan siswa mencari atau menulis naskah drama dan berlatih melakonkannya

Q. Diskusi

Metode ini digunakan karena relevan dengan CBSA. Melalui kegiatan ini akan berkembang keterampilan mengamati, mengklasifikasi, menginterpresikan, menyimpulkan, menerapkan, dan mengomunikasikan. Diskusi sebagai teknik pembelajaran berbahasa suatu cara penguasaan materi ajar melalui tukar pendapat, tukar pengalaman dan argumentasi.

Dalam diskusi siswa dibagi berkelompok untuk berinteraksi verba dan tatap muka. Pembahasan tentang tujuan tertentu melalui tukar informasi untuk memecahkan masalah (Kiw Hoa Nia, 1980;4). Diskusi kelompok suatu percakapan yang direncanakan/dipersiapkan di antara peserta tentang topik tertentu, dengan seseorang pimpinan (NKK, 1979;4). Berdasarkan pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa diskusi . . . ( 1 ) suatu kegiatan yang diikuti senjumlah peserta yang dan dipandu oleh seorang pemimpin, ( 2 ) dalam diskusi terjadi tukar – menukar pendapat untuk memecahkan masalah , ( 3 ) setiap perseta diskusi harus aktif memberikan kontruksi dalam memecahkan masalah . Diskusi pada hakikatnya percakapan tingkat lanjut di mana isi, bobot, cara pembicaraan lebih tinggi dari percakapan biasa . pelaksanaan diskusi berwujud berbagai bentuk, ada diskusi meja bundar, ada diskusi kelompok, ada diskusi panel, simposium, kolokium, debat, dan jaring ikan .

R . Menceritakan Kembali

Metode ini digunakan dalam pembelajara berbicara agar siswa memiliki kemampuan untuk menceritakan kembali suatu cerita yang disimaknya dengan bahasa siswa. Hal ini akan menjadikan siswa terampil berbicara dengan nalar yang baik, mampu menyusun kata menjadi kalimat runtut dan mengkomunikasikan menjadi cerita.

Contoh :

Guru : Baca/ dengarkan cerita berikut dengan saksama , lalu ceritakan

kembali isi ceritanya dengan kata-katamu sendiri! (Guru

menyiapkan ceritanya atau merekamnya)

S. Melaporkan

Kegiatan menyampaikan gambaran, lukisan, peristiwa terjadinya suatu hal. Hal yang dilaporkan beragam, misalnya tentang banjir, tanah longsor, kerja bakti, upacara bendera, kepramukaan, dan lain-lain. Bahan laporan singkat, padat, jelas, lugas, sederhana, menarik perhatian, rasional,lancar, dan baku.

Contoh : Giman melaporkan peristiwa kaca jendela pecah, seperti berikut ini !

Kaca Jendela Kelas Pecah

”Waktu istirahat kami bermain bola di depan kelas. Yang ikut bermain Tono, Rudi, dan saya (Giman). Mula-mula kami bermain pelan-pelan. Lama kelamaan permainan semakin hangat. Suatu tendangan keras menghantam jendela kelas. Kacanya pecah berantakan. Hal itu mula-mula saya laporkan kepada Bapak Wali Kelas. Kini hal tersebut saya laporkan kepada Kepala Sekolah,” kata Giman mengakhiri laporannya.

2.5 Faktor-Faktor Keberhasilan Berbicara

Dalam berbicara ada faktor yang perlu diperhatikan, yaitu: (1) pembicara, dan (2) pendengar. Kedua faktor tersebut akan menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan berbicara. Di bawah ini kedua faktor tersebut akan dibahas satu persatu.

1. Pembicara

Pembicara adalah salah satu faktor yang menimbulkan terjadinya kegiatan berbicara. Dan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pembicara untuk melakukan kegiatannya, yaitu: (1) pokok pembicaraan (2) metode, (3) bahasa, (4) tujuan, (5) sarana, dan (6) interaksi. Keenam hal itu akan dibicarakan lebih mendalam sebagai berikut.

1) Pokok Pembicaraan

Isi atau pesan yang menjadi pokok pembicaraan hendaknya

memperhatikan hal-hal berikut ini.

(a) Pokok pembicaraan bermanfaat bagi pendengar baik berupa informasi maupun pengetahuan.

(b) Pokok pembicaraan hendaknya serba sedikit sudah diketahui dan bahan untuk memperluas pembicaraan yang sudah diketahui itu lebih mudah diperoleh.

(c) Pokok pembicaraan menarik untuk dibahas baik oleh pembicara maupun bagi pendengar. Pokok pembicaraan yang menarik biasanya pokok pembicaraan seperti berikut:

· merupakan masalah yang menyangkut kepentingan bersama;

· merupakan jalan keluar dari suatu persoalan yang tengah dihadapi;

· merupakan persoalan yang ramai dibicarakan dalam masyarakat atau persoalan yang jarang terjadi;

· mengandung konflik atau pertentangan pendapat.

(d) Pokok pembicaraan hendaknya sesuai dengan daya tangkap pendengar; tidak melebihi daya intelektual pendengar atau sebaliknya, lebih mudah.

2) Bahasa

Bagi pembicara, bahasa merupakan suatu alat untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. Oleh karena itu, pembicara mutlak harus menguasai faktor kebahasaan. Di samping itu, pembicara juga harus menguasai faktor nonkebahasaan. Faktor-faktor tersebut akan dibahas berikut ini.

a. Faktor Kebahasaan

Faktor kebahasaan yang terkait dengan keterampilan berbicara antara lain sebagai berikut.

(1) Ketepatan pengucapan atau pelafalan bunyi

Pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat. Hal ini dapat dilakukan dengan berlatih mengucapkan bunyi-bunyi bahasa. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat dapat mengalihkan perhatian pendengar. Memang pola ucapan dan artikulasi yang kita gunakan tidak selalu sama, masing-masing kita mempunyai ciri tersendiri. Selain itu ucapan kita juga sering dipengaruhi oleh bahasa ibu. Akan tetapi, jika perbedaan itu terlalu mencolok sehingga menjadi suatu penyimpangan, maka keefekvifan komunikasi akan terganggu.

Sampai saat ini lafal bahasa Indonesia belum dibakukan, namun usaha ke arah itu sudah lama dikemukakan adalah bahwa ucapan atau lafal yang baku dalam bahasa Indonesia adalah ucapan yang bebas dari ciri-ciri lafal dialek setempat atau ciri-ciri lafal daerah.

Di bawah ini disajikan pelafalan huruf, suku kata dan kata yang belum sesuai dengan pelafalan bunyi bahasa Indonesia.

(a) Pelafalan /c/ dengan /se/

WC dilafalkan /wese/ seharusnya wece

AC dilafalkan /ase/ seharusnya ace

TC dilafalkan /tese/ seharusnya tece

(b) Pelafalan /q/ dengan /kiu/ seharusnya /ki/

MTQ dilafalkan / em-te-kiu/ seharusnya /em-te-ki/

PQR dilafalkan /pe-kiu-er/ seharusnya /pe-ki-er/

(c) Pelafalan /e`/ sebagai /e/ taling

de`ngan dilafalkan dengan / dEngan/seharusnya / de`ngan /

ke` mana dilafalkan ke mana/kE mana/seharusnya/ke` mana/

be`rapa dilafalkan berapa /bErapa / seharusnya / be` rapa /

esa dilafalkan esa / Esa / seharusnya / e`sa /

ruwet dilafalkan /ruwEt / seharusnya / ruwe` t /

pelafalan /e/ diucapkan menjadi /e`/

peka dilafalkan / pe`ka / seharusnya peka

lengah dilafalkan / le`ngah / seharusnya lengah

(d) Pelafalan diftong /au/ dengan /o/

kalau dilafalkan / kalo / seharusnya kalau

saudara dilafalkan / sodara / seharusnya saudara

(e) Pelafalan diftong /ai / sebagai /e /

Pakai dilafalkan / pake/ seharusnya pakai

balai dilafalkan / bale / seharusnya balai

(f) Pelafalan / k / dengan bunyi tahan glotal (hamzah)

Pendidikan dialafalkan/ pendidi?an / seharusnya /pendidikan/

Kemasukan dilafalkan/kemasu?an / seharusnya / kemasukan /

(g) penghilangan Fonem /h/ di depan, di tengah, atau di akhir

kata

hutan dilafalkan /utan/ seharusnya hutan

hilang dilafalkan /ilang/ sehurusnya /hilang/

tahun dilafalkan / taun / seharusnya / tahun /

lihat dilafalkan / liat / seharusnya / lihat /

pahit dilafalkan / pait / seharusnya / pahit /

bodoh dilafalkan /bodo/ seharusnya /bodoh/

jodoh dilafalkan /jodo/ seharusnya /jodoh/

Djago Tarigan , 1997 : 61-63

(2) Penempatan Tekanan, Nada, Jeda, Intonasi dan Ritme

Penempatan tekanan, nada, jeda, intonasi dan ritme yang sesuai akan merupakan daya tarik tersendiri dalam berbicara; bahkan merupakan faktor penentu dalam keefektivan berbicara. Suatu topik pembicaraan mungkin akan kurang menarik, namun dengan tekanan, nada, jeda, dan intonasi yang sesuai akan mengakibatkan pembicaraan itu menjadi menarik. Sebaliknya, apabila penyampaiannya datar saja, dapat menimbulkan kejemuan bagi pendengar dan keefektivan berbicara akan berkurang.

Kekurangtepatan dalam penempatan tekanan, nada, jeda, intonasi, dan ritme dapat menimbulkan perhatian pendengar beralih kepada cara berbicara pembicara, sehingga topik atau pokok pembicaraan yang disampaikan kurang diperhatikan. Dengan demikian keefektivan berbicara menjadi terganggu.

(3) Pemilihan kata dan ungkapan yang baik, Konkret, dan bervariasi

Kata dan ungkapan yang kita gunakan dalam berbicara hendaknya baik, konkret, dan bervariasi. Pemilihan kata dan ungkapan yang baik, maksudnya adalah pemilihan kata yang tepat dan sesuai dengan keadaan para pendengarnya. Misalnya, jika yang menjadi pendengarnya para petani, maka kata-kata yang dipilih adalah kata-kata atau ungkapan yang mudah dipahami oleh para petani.

Pemilihan kata dan ungkapan harus konkret, maksudnya pemilihan kata atau ungkapan harus jelas, mudah dipahami para pendengar. Kata-kata yang jelas biasanya kata-kata yang sudah dikenal oleh pendengar yaitu kata-kata popular. Pemilihan kata atau ungkapan yang abstrak akan menimbulkan kekurangjelasan pembicaraan.

Pemilihan kata dan ungkapan yang bervariasi, maksudnya pemilhan kata atau ungkapan dengan bentuk atau kata lain lebih kurang maknanya sama dengan maksud agar pembicaraan tidak menjemukan pendengar.

(4) Ketepatan Susunan Penuturan

Susunan penuturan berhubungan dengan penataan pembicaraan atau uraian tentang sesuatu . Hal ini menyangkut penggunaan kalimat. Pembicaraan yang menggunakan kalimat efektif akan lebih memudahkan pendengar menangkap isi pembicaraan.

b. Faktor Nonkebahasaan

Faktor-faktor nonkebahasaan mencakup (1) sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku , (2) pandangan yang diarahkan pada lawan bicara, (3) kesediaan menghargai pendapat orang lain, (4) kesediaan mengoreksi diri sendiri, (5) keberanian mengungkapkan dan mempertahankan pendapat, (6) gerak-gerik dan mimik yang tepat, (7) kenyaringan suara, (8) kelancaran, (9) penalaran dan relevansi, dan (10) penguasaan topik.

Faktor-faktor tersebut dibahas secara lebih mendalam berikut ini.

a) Sikap yang Wajar, Tenang, dan Tidak Kaku

Dalam berbicara, kita harus bersikap wajar, tenang, dan tidak kaku. Bersikap wajar, berarti berbuat biasa sebagaimana adanya tidak mengada-ada. Sikap yang yang tenang adalah sikap dengan perasaan hati yang tidak gelisah, tidak gugup, dan tidak tergesa-gesa. Sikap tenang dapat menjadikan jalan pikiran dan pembicaraan menjadi lebih lancar. Dalam berbicara tidak boleh bersikap kaku, tetapi harus bersikap luwes dan fleksibel.

b) Pandangan Diarahkan kepada Lawan Bicara

Pada waktu berbicara pandangan kita harus diarahkan lawan bicara, baik dalam pembicaraan perseorangan maupun kelompok. Pandangan pembicara yang tidak diarahkan kepada lawan bicara akan mengurangi keefektivan berbicara, di samping itu, juga kurang etis. Banyak pembicara yang tidak mengarahkan pandangannya kepada lawan bicaranya, tetapi melihat ke bawah dan ke atas. Hal ini mengakibatkan perhatian pendengar menjadi berkurang.

c) Kesediaan Menghargai Pendapat Orang Lain

Menghargai pendapat orang lain berarti menghormati atau mengindahkan pikiran orang lain, baik pendapat itu benar maupun salah. Jika pendapat itu benar maka pendapat itulah yang harus kita perhatikan dan jka pendapat itu salah pendapat itu pun harus kita hargai karena memang itulah pengetahuan dan pemahamannya.

d) Kesediaan Mengoreksi Diri Sendiri

Mengoreksi diri sendiri berarti memperbaiki kesalahan diri sendiri. Kesediaan memperbaiki diri sendiri adalah sikap terpuji. Sikap seperti ini sangat diperlukan dalam kegiatan berbicara agar diperoleh kebenaran atau kesepakatan. Sikap ini merupakan dasar bagi pembinaan jiwa yang demokratis.

e) Keberanian Mengemukakan dan Mempertahankan Pendapat

Dalam kegiatan berbicara terjadi proses lahirnya buah pikiran atau pendapat secara lisan. Untuk dapat mengungkapkan pendapat tentang sesuatu diperlukan keberanian. Seseorang mengemukakan pendapat di samping memiliki ide atau gagasan , juga harus memiliki keberanian untuk mengemukakannya. Ada orang yang mempunyai banyak ide namun ia tidak dapat mengungkapkannya karena ia tidak memiliki keberanian. Atau, sebaliknya ada orang yang berani mengungkapkan pendapat namun ia tidak atau kurang idenya sehingga apa yang ia ungkapkan terkesan asal bunyi.

f) Gerak – gerik dan Mimik yang Tepat

Salah satu kelebihan dalam kegiatan bericara dibandingkan dengan kegiatan berbahasa yang lainnya adalah adanya gerak-gerik dan mimik yang dapat memperjelas atau menghidupkan pembicaraan. Gerak-gerik dan mimik yang tepat akan menunjang keefektivan berbicara. Akan tetapi gerak-gerik yang berlebihan akan mengganggu keefektivan berbicara.

g) Kenyaringan Suara

Kenyaringan suara perlu diperhatikan oleh pembicara untuk menunjang keefktivan berbicara. Tingkat kenyaringan suara hendaknya disesuaikan dengan situasi, tempat, jumlah pendengar, dan akustik yang ada. Jangan sampai suara terlalu nyaring atau berteriak-teriak di tempat atau akustik yang terlalu sempit; atau sebaliknya, suara terlalu lemah pada ruangan yang luas, sehingga tidak dapat ditangkap oleh semua pendengar.

h) Kelancaran

Kelancaran seseorang dalam berbicara akan memudahkan pendengar menagkap isi pembicaraannya. Pembicaraan yang terputus-putus atau bahkan diselingi dengan bunyi-bunyi tertentu, misalnya, e…, em…, apa itu.., dapat mengganggu penangkapan isi pembicaraan bagi pendengar. Di samping itu, juga jangan berbicara terlalu cepat sehingga menyulitkan pendengar sukar menangkap isi atau pokok pembicaraan.

i) Penalaran dan Relevansi

Dalam berbicara, seorang pembicara hendaknya memperhatikan unsur penalaran yaitu cara berpikir yang logis untuk sampai kepada kesimpulan. Hal itu menunjukkan bahwa dalam pembicaraan seorang pembicara terdapat urutan pokok-pokok pikiran logis sehingga jelas arti atau makna pembicaraannya.

Relevansi berarti adanya hubungan atau kaitan antara pokok pembicaraan dengan uraiannya.

j) Penguasaan Topik

Pengauasaan topik pembicaraan berarti pemahaman suatu pokok pembicaraan. Dengan pemahaman tersebut seorang pembicara memiliki kesanggupan untuk mengemukakan topik itu kepada para pendengar. Oleh karena itu, sebelum melakukan kegiatan berbicara di depan umum seharusnya seorang pembicara harus menguasai topik terlebih dahulu. Sebab, dengan penguasaan topik akan membangkitkan keberanian dan menunjang kelancaran berbicara.

(5)Tujuan

Seorang pembicara dalam menyampaikan pesan kepada orang lain pasti mempunyai tujuan, ingin mendapatkan responsi atau reaksi. Responsi atau reaksi itu merupakan suatu hal yang menjadi harapan. Tujuan atau harapan pembicaraan sangat tergantung dari keadaan dan keinginan pembicara.

Secara umum tujuan pembicaraan adalah sebagai berikut:

a. mendorong atau menstimulasi,

b. meyakinkan,

c. menggerakkan,

d. menginformasikan, dan

e. menghibur.

Tujuan suatu uraian dikatakan mendorong atau menstimulasi apabila pembicara berusaha memberi semangat dan gairah hidup kepada pendengar. Reaksi yang diharapkan adalah menimbulkan inpirasi atau membangkitkan emosi para pendengar. Misalnya, pidato Ketua Umum Koni di hadapan para atlet yang bertanding di luar negeri bertujuan agar para atlet memiliki semangat bertanding yang cukup tinggi dalam rangka membela negara.

Tujuan suatu uaraian atau ceramah dikatakan meyakinkan apabila pembicara berusaha memengaruhi keyakinan, pendapat atau sikap para pendengar. Alat yang paling penting dalam uraian itu adalah argumentasi. Untuk itu diperlukan bukti, fakta, dan contoh konkret yang dapat memperkuat uraian untuk meyakinkan pendengar. Reaksi yang diharapkan adalah adanya persesuain keyakinan, pendapat atau sikap atas persoalan yang disampaikan.

Tujuan suatu uraian disebut menggerakkan apabla pembicara menghendaki adanya tindakan atau erbuatan dari para pendengar. Misalnya, berupa seruan persetujuan atau ketidaksetujuan, pengumpulan dana, penandatanganan suatu resolusi, mengadakan aksi sosial. Dasar dari tindakan atau perbuatan itu adalah keyakinan yang mendalam atau terbakarnya emosi.

Tujuan suatu uraian dikatakan menginformasikan apabila pembicara ingin memberi informasi tentang sesuatu agar para pendengar dapat mengerti dan memahaminya. Misalnya seorang guru menyampaikan pelajaran di kelas, seorang dokter menyampaikan masalah kebersihan lingkungan, seorang polisi menyampaikan masalah tertib berlalu lintas, dan sebagainya.

Tujuan suatu uraian dikatakan menghibur, apabila pembicara bermaksud menggembirakan atau menyenangkan para pendengarnya. Pembicaraan seperti ini biasanya dilakukan dalam suatu resepsi, ulang tahun, pesta, atau pertemuan gembira lainnya. Humor merupakan alat yang paling utama dalam uraian seperti itu. Reaksi atau response yang diharapkan adalah timbulnya rasa gembira, senang, dan bahagia pada hati pendengar.

(6) Sarana

Sarana dalam kegiatan berbicara mencakup waktu, tempat, suasana, dan media atau alat peraga. Pokok pembicaraan yang dipilih hendaknya disesuaikan dengan waktu yang telah ditentukan. Berbicara terlalu lama atau melebihi waktu yang disediakan dapat menimbulkan rasa jenuh para pendengar.

Tempat berbicara sangat menentukan keberhasilan pembicaraan. Dalam hal ini perlu diperhatikan faktor lokasi, jumlah pendengar, posisi pembicara dan pendengar, cahaya, udara, dan pengeras suara. Berbicara pada suasana tertentu pun akan mempengaruhi keberhasilan pembicaraan. Pembicaraan yang berlangsung pada pagi hari tentu akan lebih berhasil dibandingkan dengan pembicaraan pada siang, sore, dan malam hari.

Media atau alat peraga akan membantu kejelasan dan kemenarikan uraian. Karena itu, jika memungkinkan, dalam berbicara perlu diusahakan alat bantu seperti film, gambar, dan alat peraga lainnya.

(7)Interaksi

Kegiatan berbicara berlangsung menunjukkan adanya hubungan interaksi antara pembicara dan pendengar. Interaksi dapat berlangsung searah, dua arah, dan bahkan multi arah. Kegiatan berbicara yang berlangsung satu arah, misalnya laporan pandangan mata pertandingan sepak bola, tinju, pembacaan berita. Kegiatan berbicara yang berlangsung dua arah, misalnya pembicaraan dalam bentuk dialog atau wawancara. Sedangkan kegiatan berbicara yang berlangsung multi arah biasanya terjadi pada acara diskusi, diskusi kelompok, rapat, seminar, dan sebagainya.

(8) Pendengar

Suatu kegiatan berbicara akan berlangsung dengan baik apabila dilakukan di hadapan para pendengar yang baik. Karena itu, pendengar harus mengetahui persyaratan yang dituntut untuk menjadi pendengar yang baik.Pendengar yang baik hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a) memiliki kondisi fisik dan mental yang baik sehingga memungkinkan dapat melakukan kegiatan mendengarkan; memusatkan perhatian dan pikiran kepada pembicaraan;

b) memiliki tujuan tertentu dalam mendengarkan yang dapat mengarahkan dan mendorong kegiatan mendengarkan;

c) mengusahakan agar meminati isi pembicaraan yang didengarkan;

d) memiliki kemampuan linguistik dan nonlinguistik yang dapat meningkatkan keberhasilan mendengarkan;

e) memiliki pengalaman dan pengetahuan luas yang dapat mempermudah pengertian dan pemahaman isi pembicaraan.

2.2 Kegiatan Belajar 2 : Pembelajaran Berbicara

1. Konsep Pembelajaran Berbicara

Di dalam KTSP dinyatakan bahwa belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Pernyataan tersebut berimplikasi bahwa siapa pun yang mempelajari suatu bahasa pada hakikatnya sedang belajar berkomunikasi. Thompson (2003:1) menyatakan bahwa komunikasi merupakan fitur mendasar dari kehidupan sosial dan bahasa merupakan komponen utamanya. Pernyataan tersebut menyuratkan bahwa kegiatan berkomunikasi tidak bisa dilepaskan dengan kegiatan berbahasa. Dalam kegiatan berkomunikasi dengan bahasa, sebagaimana diketahui meliputi komunikasi lisan dan tulis. Komunikasi lisan terdiri atas keterampilan menyimak/mendengarkan dan keterampilan berbicara, sedangkan komunikasi tulis terdiri dari keterampilan membaca dan menulis.

Berbicara merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa. Keterampilan berbicara merupakan keterampilan produktif karena dalam perwujudannya keterampilan berbicara menghasilkan berbagai gagasan yang dapat digunakan untuk kegiatan berbahasa (berkomunikasi), yakni dalam bentuk lisan dan keterampilan menulis sebagai keterampilan produktif dalam bentuk tulis. Dua keterampilan lainnya (menyimak dan membaca) merupakan keterampilan reseptif atau keterampilan yang tertuju pada pemahaman. Siswa membutuhkan keterampilan berbicara dalam interaksi sosialnya. Siswa akan dapat mengungkapkan pikiran dan perasaanya secara efektif jika ia terampil berbicara. Dalam kaitan kreativitas, keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan yang perlu mendapat perhatian karena gagasan-gagasan kreatif dapat dihasilkan melalui keterampilan tersebut.

Kemampuan berbicara siswa juga dipengaruhi oleh kemampuan komunikatif. Menurut Utari dan Nababan (1993) kemampuan komunikatif adalah pengetahuan mengenai bentuk-bentuk bahasa dan makna-makna bahasa tersebut, dan kemampuan untuk menggunakannya pada saat kapan dan kepada siapa. Pengertian ini dilengkapi oleh Ibrahim (2001) bahwa kemampuan komunikatif adalah kemampuan bertutur dan menggunakan bahasa sesuai dengan fungsi, situasi, serta norma-norma berbahasa dalam masyarakat yang sebenarnya. Kompetensi komunikatif juga berhubungan dengan kemampuan sosial dan menginterpretasikan bentuk-bentuk linguistik. Para siswa tentu sudah memiliki pengetahuan sebagai modal dasar dalam bertutur karena ia berada dalam suatu lingkungan sosial yang menuntutnya untuk paham kode-kode bahasa yang digunakan masyarakatnya.

Dalam kaitannya dengan keterampilan berbicara, berikut ada ilustrasi. Ketika kita mendengar kata ”berbicara”, pikiran kita tertuju pada kegiatan ”berpidato”. Padahal, berpidato hanya merupakan salah satu bagian dari keterampilan berbicara. Tampaknya, dalam menghadapi era globalisasi saat ini keterampilan berbicara perlu terus ditingkatkan sehingga pengguna bahasa mampu menerapkan keterampilan tersebut untuk berbagai bidang kehidupan, misalnya, berwawancara, berdiskusi, bermain peran, bernegosiasi, berpendapat, dan bertanya. Untuk itu, dalam dunia pembelajaran para guru bahasa dituntut untuk dapat melakukan ”terobosan” sehingga pembelajaran bahasa yang dilaksanakannya dapat memenuhi tuntutan zaman, terutama dalam hal pembelajaran berbicara.

Dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa, khususnya pengembangan keterampilan berbicara, guru diharapkan mampu memberikan pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan usia dan kebutuhan siswa. Keberhasilan pembelajaran berbicara tentu terkait dengan berbagai faktor, di antaranya bagaimana guru merumuskan indikator dan tujuan, mengorganisasikan bahan, mengonstruk alat evaluasi, mengemas kegiatan, memilih metode dan teknik yang sesuai, serta menggunakan sumber dan media pembelajaran. Keenam faktor tersebut memerlukan keterampilan guru sehingga pembelajaran bahasa bisa berlangsung dengan memfokuskan pada siswa aktif , yaitu mengikuti kaidah PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan).

2. Karakteristik Pembelajaran Berbicara

Kegiatan berbicara dapat berlangsung jika setidak-tidaknya ada dua orang yang berinteraksi, atau seorang pembicara menghadapi seorang lawan bicara. Dengan kemajuan teknologi, kegiatan berbicara dapat berlangsung tanpa harus terjadi kegiatan tatap muka, misalnya pembicaraan melalui telepon. Bahkan melalui layar telepon seluler 3 G, tanpa bertemu langsung dua orang yang sedang berbicara dapat saling melihat. Kegiatan berbicara yang bermakna juga dapat terjadi jika salah satu pembicara memerlukan informasi baru atau ingin menyampaikan informasi penting kepada orang lain. Berikut disajikan sejumlah karakteristik yang harus ada dalam kegiatan pembelajaran berbicara:

- Harus ada lawan bicara

- Penguasaan lafal, struktur, dan kosa kata

- Ada tema/topik yang dibicarakan

- Ada informasi yang ingin disampaikan atau sebaliknya ditanyakan

- Memperhatikan situasi dan konteks

3. Kriteria Pemilihan Bahan Pembelajaran Berbicara

Pemilihan bahan pembelajaran berbicara bergantung pada jenis keterampilan berbicara yang akan dikembangkan dalam diri siswa. Kegiatan pembelajaran berbicara meliputi: menyapa, memperkenalkan diri, bertanya, menjawab pertanyaan, bercerita (menceritakan pengalaman, buku/cerita yang pernah didengarkan/dibaca), berpendapat dalam diskusi kelompok, memberi petunjuk, bermain peran, mewawancarai, bernegosiasi/ bertransaksi, mengomentari, memuji, menasehati, dan mengkritik.

Jika kegiatan pembelajaran berupa berwawancara, berarti tujuan pembelajarannya adalah siswa dapat memperoleh informasi baru dari nara sumber. Bahan atau sumber yang digunakan adalah nara sumber yang sesuai dengan informasi yang ingin digali. Jika kegiatan pembelajaran berupa memberi petunjuk , bahan ajarnya tentu tentang petunjuk apa, apakah petunjuk penggunaan sesuatu, pembuatan sesuatu, atau petunjuk arah/denah, maka harus dicarikan bahan atau materi yang sesuai. Jadi, kriteria pemilihan bahan atau materi adalah:

a. sesuai dengan jenis keterampilan berbicara yang akan dilatihkan

b. bervariasi sehingga siswa mendapatkan pengalaman belajar yang beragam

c. dapat mengembangkan kosakata sehingga keterampilan berbicara tidak menjemukan

d. memberikan contoh ketepatan ucapan, prononsiasi, dan intonasi sehingga siswa mampu berbicara dengan jelas

e. dapat mengembangkan wawasan yang lebih luas

f. topik kegiatan berbicara harus actual ( tengah menjadi sorotan publik)

g. bahan diorganisasi secara sistematis dengan mengikuti prinsip-prinsip pembelajaran (dari yang mudah ke yang sukar, dari yang dekat ke yang jauh, dari yang dikenal ke yang tidak dikenal, dari yang sederhana ke yang kompleks).

h. kegiatan pembelajaran dikemas yang menarik, kadang dilakukan di luar kelas (pembelajaran tidak selalu dibatasi empat dinding kelas).

i. menggunakan metode dan teknik yang dapat menumbuhkan minat siswa belajar dan tertarik dengan pembelajaran bahasa.

j. memilih sumber dan media pembelajaran yang dapat menumbuhkan pikiran-pikiran kritis dan kreatif.

4. Metode Pembelajaran Berbicara

Pembelajaran berbicara harus berorientasi pada aspek penggunaan bahasa, bukan pada aturan pemakaiannya. Berdasarkan hal tersebut, pembelajaran berbicara di kelas semestinya diarahkan untuk membuat dan mendorong siswa mampu mengemukakan pendapat, bercerita, melakukan wawancara, berdiskusi, bertanya jawab, dan berpidato.

Metode pengajaran yang selama ini kita ketahui adalah ceramah, tanya jawab, demonstrasi, penugasan, diskusi, karyawisata, dan sosiodrama. Namun, untuk mengembangkan kemampuan menggunakan bahasa , diperlukan metode pembelajaran berbicara yang sesuai, yang menekankan pada siswa aktif atau berpusat pada siswa. Oleh karena itu, dalam kegiatan belajar mengajar di kelas harus banyak kegiatan siswa berlatih atau praktik berbicara sehingga diketahui kemajuan kemampuan berbicaranya.

Untuk menentukan metode mana yang cocok dalam mengembangkan kemampuan berbicara, guru harus mengacu pada kurikulum (Standar Isi). Semua kompetensi dasar berbicara pada kurikulum harus dilihat, dicocokkan dengan metode dan model pembelajarannya. Jika metode yang dipilih sesuai dan benar-benar dapat mengembangkan keterampilan berbicara setiap siswa, maka pembelajaran berbicara akan disukai siswa. Apalagi jika guru dapat memvariasikan kegiatan (tidak monoton) dan pengelolaan kelas, diharapkan siswa lebih termotivasi untuk terus berlatih berbicara. Berikut contoh kaitan kompetensi berbicara dengan metode dan model pembelajaran yang sesuai.

Kompetensi Dasar Berbicara

Bahasa dan Sastra Indonesia Jenjang SMP

Kompetensi Berbicara

Metode Pembelajaran

Model Pembelajaran

- Menceritakan pengalaman

yang paling mengesankan

dengan menggunakan pilihan

kata dan kalimat efektif

- Menyampaikan pengumuman dengan intonasi yang tepat serta menggunakan kalimat-kalimat yang lugas dan sederhana

- Presentasi individual

- Presentasi individual


- Bercerita dengan urutan yang baik, suara, lafal, intonasi, gestur, dan mimik yang tepat

- Bercerita dengan alat peraga

- Presentasi individual

- Bermain peran (individual/kelmpok)menggunakan boneka


- Menceritakan tokoh idola dengan mengemukakan identitas dan keunggulan tokoh, serta alasan mengidolakannya dengan pilihan kata yang sesuai

- Bertelepon dengan kalimat yang efektif dan bahasa yang santun

- Presentasi individual

- Bermain peran berpasangan


- Menanggapi cara pembacaan cerpen

- Menjelaskan hubungan latar suatu cerpen (cerita pendek) dengan realitas sosial

- Presentasi individual dalam kegiatan diskusi

- Presentasi individual dalam kegiatan diskusi


- Berwawancara dengan narasumber dari berbagai kalangan dengan memperhatikan etika berwawancara

- Menyampaikan laporan secara lisan dengan bahasa yang baik dan benar

- Berwawancara

- Presentasi individual


- Bermain peran sesuai dengan naskah yang ditulis siswa

- Bermain peran dengan cara improvisasi sesuai dengan kerangka naskah yang ditulis siswa

- Bermain peran

- Bermain peran


- Menyampaikan persetujuan, sanggahan, dan penolakan pendapat dalam diskusi disertai dengan bukti atau alasan

- Membawakan acara dengan bahasa yang baik dan benar, serta santun

- Presentasi individual dalam kegiatan diskusi

- Bermain peran sebagai MC


- Mengomentari kutipan novel remaja (asli atau terjemahan)

- Menanggapi hal yang menarik dari kutipan novel remaja (asli atau terjemahan)

- Presentasi individual

- Presentasi individual dan diskusi kelompok

Model kerja kelompok kepala bernomor

- Mengkritik/memuji berbagai karya (seni atau produk) dengan bahasa yang lugas dan santun

- Melaporkan secara lisan berbagai peristiwa dengan menggunakan kalimat yang jelas

- Presentasi individual

- Presentasi individual


- Menceritakan kembali secara lisan isi cerpen

- Menyanyikan puisi yang sudah dimusikalisasi dengan berpedoman pada kesesuaian isi puisi dan suasana/irama yang dibangun

- Presentasi individual

- Presentasi individual


- Berpidato/ berceramah/ berkhotbah dengan intonasi yang tepat dan artikulasi serta volume suara yang jelas

- Menerapkan prinsip-prinsip diskusi

- Presentasi individual

- Presentasi individual


- Membahas pementasan drama yang ditulis siswa

- Menilai mementasan drama yang dilakukan oleh siswa

- Presentasi individual

- Presentasi individual






5. Media Pembelajaran Berbicara

Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan (Bovee, 1997). Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar, dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media.

Bentuk-bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media pembelajaran berbicara di antaranya adalah hubungan atau interaksi manusia; realia; gambar bergerak atau tidak; tulisan, suara yang direkam, permainan untuk kegiatan memberikan petunjuk. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar mempelajari bahasa. Namun demikian tidaklah mudah mendapatkan kelima bentuk itu dalam satu waktu atau tempat.

Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi belajar siswa. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada siswa. Selain itu, media juga harus merangsang siswa mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Media yang baik juga akan mengaktifkan siswa dalam memberikan tanggapan, umpan balik, dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktik berbicara dengan benar.

6. Penilaian Pembelajaran Berbicara

Ada dua jenis penilaian yang digunakan dalam pembelajaran berbicara, yaitu penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses dilakukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung untuk menilai sikap siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Penilaian hasil dilakukan berdasarkan unjuk kerja yang dilakukan siswa ketika menyajikan kompetensi berbicara yang dituntut kurikulum atau mempresentasikan secara individual.

Dalam penilaian proses digunakan lembar penilaian sikap (afektif) yang terdiri dari aspek: (1) kedisiplinan; (2) minat; (3) kerja sama; (4) keaktifan; dan (5) tanggung jawab. Dalam penilaian hasil digunakan rubrik penilaian untuk mengetahui kompetensi siswa dalam berbicara, misalnya menanggapi pembacaan cerpen. Ada beberapa aspek yang dinilai, yaitu (1) kelancaran menyampaikan pendapat/tanggapan; (2) kejelasan vokal; (3) ketepatan intonasi; (4) ketepatan pilihan kata (diksi); (5) struktur kalimat (tuturan); (6) kontak mata dengan pendengar; (7) ketepatan mengungkapkan gagasan disertai data tekstual.

Penilaian kompetensi berbicara yang dilakukan dengan unjuk kerja/performance yang utama perlu diukur adalah yang berkaitan dengan penggunaan bahasa seperti penguasaan lafal, struktur, dan kekayaan kosa kata. Selain itu, juga penguasaan masalah yang menjadi bahan pembicaraan, bagaimana siswa memahami topik yang dibicarakan dan mampu mengungkapkan gagasan di dalamnya, serta kemampuan memahami bahasa lawan bicara ( Burhan Nurgiyantoro, 2001:276).

Penilaian kemampuan berbicara haruslah membiarkan siswa untuk menghasilkan bahasa dan mengemukakan gagasan melalui bahasa yang sedang dipelajarinya. Dengan kata lain, penilaian berbicara harus dilakukan dengan praktik berbicara. Jadi, bentuk penilaian pembelajaran berbicara seharusnya memungkinkan siswa untuk tidak saja mengucapkan kemampuan berbahasanya, melainkan juga mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaannya sehingga penilaian ini bersifat fungsional (Burhan Nurgiyantoro, 2001:278).

Berikut contoh model penilaian berbicara:

1. Pembicaraan berdasarkan gambar

a. Pemberian pertanyaan

b. Bercerita (menceritakan gambar)

2. Wawancara

3. Bercerita

4. Berpidato

5. Diskusi

6. Bermain peran

Dalam menggunakan bentuk-bentuk penilaian di atas, pelaksanaannya tetap harus focus pada aspek kognitif . Meskipun aspek psikomotor yang berupa gerakan mulut, ekspresi mata, dan gesture lain juga harus dinilai, 6 tingkatan aspek kognitif Bloom yang berkaitan dengan pengembangan kemampuan berpikir tetap harus menjadi focus utama karena berkaitan dengan kemampuan menuangkan gagasan (Ibid, 2001:291-292). Keenam tingkatan berpikir ( C1 – C6) dari yang paling rendah hingga paling tinggi (mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesiskan, dan mengevaluasi) harus dinilai dengan menggunakan rubric dan penyekoran yang tepat sehingga tidak ada siswa yang dirugikan karena kompetensi tiap siswa terukur dengan alat ukur yang akurat.

BAB III RANCANGAN PEMBELAJARAN BERBICARA

Membuat rancangan pembelajaran merupakan amanat dari PP 19 Tahun 2005 terutama pasal 19 Ayat 3 yang berbunyi “Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.” Perencanaan pembelajaran dinyatakan pada Pasal 20 sebagaimana berbunyi,” Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar.” Dengan demikian, seorang guru berkewajiban untuk menyusun silabus dan RPP. Bagaimanakah langkah-langkah penyusunan (RPP)?

1. Mencantumkan identitas

· Nama sekolah

· Mata Pelajaran

· Kelas/Semester

· Alokasi Waktu

Catatan:

Ø RPP disusun untuk satu Kompetensi Dasar.

Ø Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator dikutip dari silabus yang disusun oleh satuan pendidikan

Ø Alokasi waktu diperhitungkan untuk pencapaian satu kompetensi dasar yang bersangkutan, yang dinyatakan dalam jam pelajaran dan banyaknya pertemuan. Oleh karena itu, waktu untuk mencapai suatu kompetensi dasar dapat diperhitungkan dalam satu atau beberapa kali pertemuan bergantung pada karakteristik kompetensi dasarnya.

2. Menuliskan Indikator Pencapaian Kompetensi (diambil dari silabus)

Indikator merupakan penjabaran dari kompetensi dasar dan merupakan sub-kompetensi dasar. Indikator dirumuskan sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan atau dapat diobservasi, sebagai acuan penilaian. Dengan demikian indikator pencapaian kompetensi mengarah pada indikator penilaian. Dalam penulisan indicator, ada yang menuliskan di bagian atas sesudah kompetensi dasar dan ada yang menuliskan di bawah sebelum penilaian. Hal ini tidak perlu diperdebatkan yang penting kebermaknaan dan keterpakaiannya yang harus diperhatikan.

Contoh : terlampir

3. Merumuskan Tujuan

Tujuan Pembelajaran berisi penguasaan kompetensi yang operasional yang ditargetkan/dicapai dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang operasional dari kompetensi dasar. Apabila rumusan kompetensi dasar sudah operasional, rumusan tersebutlah yang dijadikan dasar dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dapat terdiri atas sebuah tujuan atau beberapa tujuan. Tujuan pembelajaran dirumuskan dari indikator dan boleh dirumuskan dari KD bila KD-nya sudah menggunakan kata kerja operasional. Jika tujuan dirumuskan dari indikator, berarti banyaknya tujuan minimal sama denganbanyaknya indikator.

4. Mengidentifikasi Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran adalah materi yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Materi pembelajaran dikembangkan dengan mengacu pada materi pokok yang ada dalam silabus.

Dalam mengidentifikasi materi pokok harus dipertimbangkan:

a. relevansi materi pokok dengan SK dan KD;

b. tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik;

c. kebermanfaatan bagi peserta didik;

d. struktur keilmuan;

e. kedalaman dan keluasan materi;

f. relevansi dengan kebutuhan peseta didik dan tuntutan lingkungan;

g. alokasi waktu.

5. Penentuan Metode

Dalam menentukan metode pembelajaran berbicara hendaknya memenuhi kriteria sebagai berikut :

(1). Relevan dengan tujuan pembelajaran

(2). Memudahkan siswa untuk memahami materi pembelajaran

(3).mengembangkan butir-butir keterampilan proses

(4). Dapat mewujudkan keterampilan belajar yang telah dirancang

(5). Merangsang siswa untuk belajar

(6). Mengembangkan penampilan siswa, kreativitas siswa

(7). Tidak menuntut peralatan yang rumit

(8). Mudah dilaksanakan

(9). Menciptakan sikon PBM yang menyenangkan

Contoh Metode Pembelajaran:

1.Pemodelan

2.Inkuiri

3.Demonstrasi

1. Langkah-Langkah

Untuk mencapai suatu kompetensi dasar dalam kegiatan pembelajaran harus dicantumkan langkah-langkah kegiatan dalam setiap pertemuan. Pada dasarnya, langkah-langkah kegiatan memuat unsur kegiatan :

a. Pendahuluan

Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan un­tuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.

b. Inti

Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran di­lakukan secara interaktif, inspiratif, menyenang­kan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

c. Penutup

Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan un­tuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Kegiatan pembelajaran memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.

Kriteria mengembangkan kegiatan pembelajaran sebagai berikut.

Kegiatan pembelajaran disusun bertujuan untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar mereka dapat bekerja dan melaksanakan proses pembelajaran secara profesional sesuai dengan tuntutan kurikulum.

a. Kegiatan pembelajaran disusun berdasarkan atas satu tuntutan kompetensi dasar secara utuh.

b. Pengalaman belajar memuat rangkaian kegiatan yan harus dilakukan oleh siswa secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.

c. Kegiatan pembelajaran berpusat pada siswa (student centered). Guru harus selalu berpikir kegiatan apa yang bisa dilakukan agar siswa memiliki kompetensi yang telah ditetapkan.

d. Materi kegiatan pembelajaran dapat berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

e. Perumusan kegiatan pembelajaran harus jelas memuat materi yang harus dikuasai untuk mencapai Kompetensi Dasar.

f. Penentuan urutan langkah pembelajaran sangat penting artinya bagi KD-KD yang memerlukan prasyarat tertentu.

g. Pembelajaran bersifat spiral (terjadi pengulangan-pengulangan pembelajaran materi tertentu).

h. Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan kegiatan pembelajaran siswa, yaitu kegiatan dan objek belajar.

Pemilihan kegiatan siswa mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

a. memberikan peluang bagi siswa untuk mencari, mengolah, dan menemukan sendiri pengetahuan, di bawah bimbingan guru;

b. mencerminkan ciri khas dalam pegembangan kemapuan mata pelajaran;

c. disesuaikan dengan kemampuan siswa, sumber belajar dan sarana yang tersedia

d. bervariasi dengan mengombinasikan kegiatan individu/perorangan, berpasangan, kelompok, dan klasikal.

e. memperhatikan pelayanan terhadap perbedaan individual siswa seperti: bakat, minat, kemampuan, latar belakang keluarga, sosial-ekomomi, dan budaya, serta masalah khusus yang dihadapi siswa yang bersangkutan.

7. Sumber dan Media

Sumber belajar merupakan segala sesuatu yang diperlukan dalam proses pembelajaran, yang dapat berupa: buku teks, media cetak, media elektronika, nara sumber, lingkungan alam sekitar, dan sebagainya.

Sumber Belajar

1.1.1 Bagan identifikasi pengalaman

1.1.2 Gambar

1.1.3 VCD

1.1.4 Narasumber

1.1.5 Buku Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

    1. Penentuan Penilaian

Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator Di dalam kegiatan penilaian ini terdapat tiga komponen penting, yang meliputi: (a) teknik penilaian, (b) bentuk instrumen, dan (c) contoh instrumen.

a. Teknik Penilaian

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis dan menafsirkan proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan untuk menentukan tingkat keberhasilan pencapaian kompetensi yang telah ditentukan. Adapun yang dimaksud dengan teknik penilaian adalah cara-cara yang ditempuh untuk memperoleh informasi mengenai proses dan produk yang dihasilkan pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik. Ada beberapa teknik yang dapat dilakukan dalam rangka penilaian ini, yang secara garis besar dapat dikategorikan sebagai teknik tes dan teknik nontes.

Teknik tes merupakan cara untuk memperoleh informasi melalui pertanyaan yang memerlukan jawaban betul atau salah, sedangkan teknik nontes adalah suatu cara untuk memperoleh informasi melalui pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban betul atau salah.

Dalam melaksanakan penilaian perlu diperhatikan prinsip-prinsip berikut ini.

1) Pemilihan jenis penilaian harus disertai dengan aspek-aspek yang akan dinilai sehingga memudahkan dalam penyusunan soal.

2) Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian indikator.

3) Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan siswa setelah siswa mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.

4) Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan siswa.

5) Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindakan perbaikan, berupa program remedi. Apabila siswa belum menguasai suatu kompetensi dasar, ia harus mengikuti proses pembelajaran lagi, sedang bila telah menguasai kompetensi dasar, ia diberi tugas pengayaan.

6) Siswa yang telah menguasai semua atau hampir semua kompetensi dasar dapat diberi tugas untuk mempelajari kompetensi dasar berikutnya.

7) Dalam sistem penilaian berkelanjutan, guru harus membuat kisi-kisi penilaian dan rancangan penilaian secara menyeluruh untuk satu semester dengan menggunakan teknik penilaian yang tepat.

8) Penilaian dilakukan untuk menyeimbangkan berbagai aspek pembelajaran: kognitif, afektif dan psikomotor dengan menggunakan berbagai model penilaian,baik formal maupun nonformal secara berkesinambungan.

9) Penilaian merupakan suatu proses pengumpulan dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip berkelanjutan, bukti-bukti otentik, akurat, dan konsisten sebagai akuntabilitas publik.

10) Penilaian merupakan proses identifikasi pencapaian kompetensi dan hasil belajar yang dikemukakan melalui pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai disertai dengan peta kemajuan hasil belajar siswa.

11) Penilaian berorientasi pada Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan Indikator. Dengan demikian, hasilnya akan memberikan gambaran mengenai perkembangan pencapaian kompetensi.

12) Penilaian dilakukan secara berkelanjutan (direncanakan dan dilakukan terus menerus) guna mendapatkan gambaran yang utuh mengenai perkembangan penguasaan kompetensi siswa, baik sebagai efek langsung (main effect) maupun efek pengiring (nurturant effect) dari proses pembelajaran.

13) Sistem penilaian harus disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan, penilaian harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil dengan melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.

b. Bentuk Instrumen

Bentuk instrumen yang dipilih harus sesuai dengan teknik penilaiannya. Oleh karena itu, bentuk instrumen yang dikembangkan dapat berupa bentuk instrumen yang tergolong teknik:

1) Tes tulis, dapat berupa tes esai/uraian, pilihan ganda, isian, menjodohkan dan sebagainya.

2) Tes lisan, yaitu berbentuk daftar pertanyaan.

3) Observasi yaitu dengan menggunakan lembar observasi.

4) Tes Praktik/ Kinerja berupa tes tulis keterampilan, tes identifikasi, tes simulasi, dan uji petik kerja

5) Penugasan individu atau kelompok, seperti tugas proyek atau tugas rumah.

6) Portofolio dengan menggunakan dokumen pekerjaan, karya, dan atau prestasi siswa.

7) Penilaian diri dengan menggunakan lembar penilaian diri

Sesudah penentuan instrumen tes telah dipandang tepat, selanjutnya instrumen tes itu dituliskan di dalam kolom matriks silabus yang tersedia. Berikut ini disajikan ragam teknik penilaian beserta bentuk instrumen yang dapat digunakan.

Tabel 1. Ragam Teknik Penilaian beserta Ragam Bentuk Instrumennya

Teknik Penilaian

Bentuk Instrumen

• Tes tertulis

• Tes pilihan: pilihan ganda, benar-salah, menjodohkan dll.

• Tes isian: isian singkat dan uraian

• Tes lisan

• Daftar pertanyaan

• Observasi (pengamatan)

• Lembar observasi (lembar pengamatan)

• Tes praktik (tes kinerja)

• Tes tulis keterampilan

• Tes identifikasi

• Tes simulasi

• Tes uji petik kerja

• Penugasan individual atau kelompok

• Pekerjaan rumah

• Proyek

• Penilaian portofolio

• Lembar penilaian portofolio

• Jurnal

• Buku cacatan jurnal

• Penilaian diri

• Kuesioner/lembar penilaian diri

• Penilaian antarteman

• Lembar penilaian antarteman

9. Menentukan Alokasi Waktu

Alokasi waktu adalah jumlah waktu yang dibutuhkan untuk ketercapaian suatu Kompetensi Dasar tertentu, dengan memperhatikan:

a. minggu efektif per semester,

b. alokasi waktu mata pelajaran, dan

c. jumlah kompetensi per semester.

10. Tindak Lanjut

Tindak lanjut merupakan kegiatan yang dilakukan sebagai refleksi terhadap kegiatan proses pembelajaran yang telah dilakukan oleh siswa. Kegiatan tindak lanjut berupa :

1. Pengayaan dan penghargaan diberikan kepada siswa yang telah memenuhi standar mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM).

2.Remedial diberikan kepada siswa yang belum memenuhi KKM .

1. Pembelajaran Pengayaan

A. Hakikat Pembelajaran Pengayaan

Secara umum pengayaan dapat diartikan sebagai pengalaman atau kegiatan peserta didik yang melampaui persyaratan minimal yang ditentukan oleh kurikulum dan tidak semua peserta didik dapat melakukannya.

Untuk memahami pengertian program pembelajaran pengayaan, terlebih dahulu perlu diperhatikan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berlaku berdasar Permendiknas 22, 23, dan 24 Tahun 2006 pada dasarnya menganut sistem pembelajaran berbasis kompetensi, sistem pembelajaran tuntas, dan sistem pembelajaran yang memperhatikan dan melayani perbedaan individual peserta didik. Sistem dimaksud ditandai dengan dirumuskannya secara jelas standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang harus dikuasai peserta didik. Penguasaan SK dan KD setiap peserta didik diukur dengan menggunakan sistem penilaian acuan kriteria (PAK). Jika seorang peserta didik mencapai standar tertentu maka peserta didik tersebut dipandang telah mencapai ketuntasan.

Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran tuntas, lazimnya guru mengadakan penilaian awal untuk mengetahui kemampuan peserta didik terhadap kompetensi atau materi yang akan dipelajari sebelum pembelajaran dimulai. Kemudian dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan berbagai strategi seperti ceramah, demonstrasi, pembelajaran kolaboratif/kooperatif, inkuiri, diskoveri, dsb. Melengkapi strategi pembelajaran digunakan juga berbagai media seperti media audio, video, dan audiovisual dalam berbagai format, mulai dari kaset audio, slide, video, komputer multimedia, dsb. Di tengah pelaksanaan pembelajaran atau pada saat kegiatan pembelajaran sedang berlangsung, diadakan penilaian proses dengan menggunakan berbagai teknik dan instrumen dengan tujuan untuk mengetahui kemajuan belajar serta seberapa jauh penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah atau sedang dipelajari. Penilaian proses juga digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran bila dijumpai hambatan-hambatan.

Pada akhir program pembelajaran, diadakan penilaian yang lebih formal berupa ulangan harian. Ulangan harian dimaksudkan untuk menentukan tingkat pencapaian belajar, apakah seorang peserta didik gagal atau berhasil mencapai tingkat penguasaan kompetensi tertentu. Penilaian akhir program ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan apakah peserta didik telah mencapai kompetensi (tingkat penguasaan) minimal atau ketuntasan belajar seperti yang telah dirumuskan pada saat pembelajaran direncanakan.

Jika ada peserta didik yang lebih mudah dan cepat mencapai penguasaan kompetensi minimal yang ditetapkan, maka sekolah perlu memberikan perlakuan khusus berupa program pembelajaran pengayaan. Pembelajaran pengayaan merupakan pembelajaran tambahan dengan tujuan untuk memberikan kesempatan pembelajaran baru bagi peserta didik yang memiliki kelebihan sedemikain rupa sehingga mereka dapat mengoptimalkan perkembangan minat, bakat, dan kecakapannya. Pembelajaran pengayaan berupaya mengembangkan keterampilan berpikir, kreativitas, keterampilan memecahkan masalah, eksperimentasi, inovasi, penemuan, keterampilan seni, keterampilan gerak, dsb. Pembelajaran pengayaan memberikan pelayanan kepada peserta didik yang memiliki kecerdasan lebih dengan tantangan belajar yang lebih tinggi untuk membantu mereka mencapai kapasitas optimal dalam belajarnya.

B. Jenis Pembelajaran Pengayaan

Ada tiga jenis pembelajaran pengayaan, yaitu:

1. Kegiatan eksploratori yang bersifat umum yang dirancang untuk disajikan kepada peserta didik. Sajian dimaksud berupa peristiwa sejarah, buku, tokoh masyarakat, dsb, yang secara regular tidak tercakup dalam kurikulum.

2. Keterampilan proses yang diperlukan oleh peserta didik agar berhasil dalam melakukan pendalaman dan investigasi terhadap topik yang diminati dalam bentuk pembelajaran mandiri.

3. Pemecahan masalah yang diberikan kepada peserta didik yang memiliki kemampuan belajar lebih tinggi berupa pemecahan masalah nyata dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah atau pendekatan investigatif/ penelitian ilmiah.

Pemecahan masalah ditandai dengan:

a. Identifikasi bidang permasalahan yang akan dikerjakan;

b. Penentuan fokus masalah/problem yang akan dipecahkan;

c. Penggunaan berbagai sumber;

d. Pengumpulan data menggunakan teknik yang relevan;

e. Analisis data;

f. Penyimpulan hasil investigasi.

Sekolah tertentu, khususnya yang memiliki peserta didik lebih cepat belajar dibanding sekolah-sekolah pada umumnya, dapat menaikkan tuntutan kompetensi melebihi standari isi. Misalnya sekolah-sekolah yang menginginkan memiliki keunggulan khusus.

C. Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran Pengayaan

Bentuk-bentuk pelaksanaan pembelajaran pengayaan dapat dilakukan antara lain melalui:

1. Belajar Kelompok

Sekelompok peserta didik yang memiliki minat tertentu diberikan pembelajaran bersama pada jam-jam pelajaran sekolah biasa, sambil menunggu teman-temannya yang mengikuti pembelajaran remedial karena belum mencapai ketuntasan.

2. Belajar mandiri.

Secara mandiri peserta didik belajar mengenai sesuatu yang diminati.

3. Pembelajaran berbasis tema.

Memadukan kurikulum di bawah tema besar sehingga peserta didik dapat mempelajari hubungan antara berbagai disiplin ilmu.

4. Pemadatan kurikulum.

Pemberian pembelajaran hanya untuk kompetensi/materi yang belum diketahui peserta didik. Dengan demikian tersedia waktu bagi peserta didik untuk memperoleh kompetensi/materi baru, atau bekerja dalam proyek secara mandiri sesuai dengan kapasitas maupun kapabilitas masing-masing.

Perlu dijelaskan bahwa panduan penyelenggaraan pembelajaran pengayaan ini terutama terkait dengan kegiatan tatap muka untuk jam-jam pelajaran sekolah biasa. Namun demikian kegiatan pembelajaran pengayaan dapat pula dikaitkan dengan kegiatan tugas terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Sekolah dapat juga memfasilitasi peserta didik dengan kelebihan kecerdasan dalam bentuk kegiatan pengembangan diri dengan spesifikasi pengayaan kompetensi tertentu, misalnya untuk bidang sains. Pembelajaran seperti ini diselenggarakan untuk membantu peserta didik mempersiapkan diri mengikuti kompetisi tingkat nasional maupun internasional seperti olimpiade internasional fisika, kimia dan biologi.

Sebagai bagian integral dari kegiatan pembelajaran, kegiatan pengayaan tidak lepas kaitannya dengan penilaian. Penilaian hasil belajar kegiatan pengayaan, tentu tidak sama dengan kegiatan pembelajaran biasa, tetapi cukup dalam bentuk portofolio, dan harus dihargai sebagai nilai tambah (lebih) dari peserta didik yang normal.

2. PEMBELAJARAN REMEDIAL

A. Hakikat Pembelajaran Remedial

Pembelajaran remedial merupakan layanan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik untuk memperbaiki prestasi belajarnya sehingga mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan. Untuk memahami konsep penyelenggaraan model pembelajaran remedial, terlebih dahulu perlu diperhatikan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diberlakukan berdasarkan Permendiknas 22, 23, 24 Tahun 2006 dan Permendiknas No. 6 Tahun 2007 menerapkan sistem pembelajaran berbasis kompetensi, sistem belajar tuntas, dan sistem pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual peserta didik. Sistem dimaksud ditandai dengan dirumuskannya secara jelas standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang harus dikuasai peserta didik. Penguasaan SK dan KD setiap peserta didik diukur menggunakan sistem penilaian acuan kriteria. Jika seorang peserta didik mencapai standar tertentu maka peserta didik dinyatakan telah mencapai ketuntasan.

Pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran tuntas, dimulai dari penilaian kemampuan awal peserta didik terhadap kompetensi atau materi yang akan dipelajari. Kemudian dilaksanakan pembelajaran menggunakan berbagai metode seperti ceramah, demonstrasi, pembelajaran kolaboratif/kooperatif, inkuiri, diskoveri, dsb. Melengkapi metode pembelajaran digunakan juga berbagai media seperti media audio, video, dan audiovisual dalam berbagai format, mulai dari kaset audio, slide, video, komputer, multimedia, dsb. Di tengah pelaksanaan pembelajaran atau pada saat kegiatan pembelajaran sedang berlangsung, diadakan penilaian proses menggunakan berbagai teknik dan instrumen dengan tujuan untuk mengetahui kemajuan belajar serta seberapa jauh penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah atau sedang dipelajari. Pada akhir program pembelajaran, diadakan penilaian yang lebih formal berupa ulangan harian. Ulangan harian dimaksudkan untuk menentukan tingkat pencapaian belajar peserta didik, apakah seorang peserta didik gagal atau berhasil mencapai tingkat penguasaan tertentu yang telah dirumuskan pada saat pembelajaran direncanakan.

Apabila dijumpai adanya peserta didik yang tidak mencapai penguasaan kompetensi yang telah ditentukan, maka muncul permasalahan mengenai apa yang harus dilakukan oleh pendidik. Salah satu tindakan yang diperlukan adalah pemberian program pembelajaran remedial atau perbaikan. Dengan kata lain, remedial diperlukan bagi peserta didik yang belum mencapai kemampuan minimal yang ditetapkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Pemberian program pembelajaran remedial didasarkan atas latar belakang bahwa pendidik perlu memperhatikan perbedaan individual peserta didik.

Dengan diberikannya pembelajaran remedial bagi peserta didik yang belum mencapai tingkat ketuntasan belajar, maka peserta didik ini memerlukan waktu lebih lama daripada mereka yang telah mencapai tingkat penguasaan. Mereka juga perlu menempuh penilaian kembali setelah mendapatkan program pembelajaran remedial.

B. Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran Remedial

Setelah diketahui kesulitan belajar yang dihadapi peserta didik, langkah berikutnya adalah memberikan perlakuan berupa pembelajaran remedial. Bentuk-bentuk pelaksanaan pembelajaran remedial antara lain:

1. Pemberian pembelajaran ulang dengan metode dan media yang berbeda. Pembelajaran ulang dapat disampaikan dengan cara penyederhanaan materi, variasi cara penyajian, penyederhanaan tes/pertanyaan. Pembelajaran ulang dilakukan bilamana sebagian besar atau semua peserta didik belum mencapai ketuntasan belajar atau mengalami kesulitan belajar. Pendidik perlu memberikan penjelasan kembali dengan menggunakan metode dan/atau media yang lebih tepat.

2. Pemberian bimbingan secara khusus, misalnya bimbingan perorangan. Dalam hal pembelajaran klasikal peserta didik mengalami kesulitan, perlu dipilih alternatif tindak lanjut berupa pemberian bimbingan secara individual. Pemberian bimbingan perorangan merupakan implikasi peran pendidik sebagai tutor. Sistem tutorial dilaksanakan bilamana terdapat satu atau beberapa peserta didik yang belum berhasil mencapai ketuntasan.

3. Pemberian tugas-tugas latihan secara khusus.

Dalam rangka menerapkan prinsip pengulangan, tugas-tugas latihan perlu diperbanyak agar peserta didik tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan tes akhir. Peserta didik perlu diberi latihan intensif (drill) untuk membantu menguasai kompetensi yang ditetapkan.

4. Pemanfaatan tutor sebaya.

Tutor sebaya adalah teman sekelas yang memiliki kecepatan belajar lebih. Mereka perlu dimanfaatkan untuk memberikan tutorial kepada rekannya yang mengalami kelambatan belajar. Dengan teman sebaya diharapkan peserta didik yang mengalami kesulitan belajar akan lebih terbuka dan akrab.

Hasil belajar yang menunjukkan tingkat pencapaian kompetensi melalui penilaian diperoleh dari penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses diperoleh melalui postes, tes kinerja, observasi dan lain-lain. Sedangkan penilaian hasil diperoleh melalui ulangan harian, ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester.

Jika peserta didik tidak lulus karena penilaian hasil maka sebaiknya hanya mengulang tes tersebut dengan pembelajaran ulang jika diperlukan. Namun apabila ketidaklulusan akibat penilaian proses yang tidak diikuti (misalnya kinerja praktik, diskusi/presentasi kelompok) maka sebaiknya peserta didik mengulang semua proses yang harus diikuti.

C. Waktu Pelaksanaan Pembelajaran Remedial

Terdapat beberapa alternatif berkenaan dengan waktu atau kapan pembelajaran remedial dilaksanakan. Pertanyaan yang timbul, apakah pembelajaran remedial diberikan pada setiap akhir ulangan harian, mingguan, akhir bulan, tengah semester, atau akhir semester. Ataukah pembelajaran remedial itu diberikan setelah peserta didik mempelajari SK atau KD tertentu? Pembelajaran remedial dapat diberikan setelah peserta didik mempelajari KD tertentu. Namun karena dalam setiap SK terdapat beberapa KD, maka terlalu sulit bagi pendidik untuk melaksanakan pembelajaran remedial setiap selesai mempelajari KD tertentu. Mengingat indikator keberhasilan belajar peserta didik adalah tingkat ketuntasan dalam mencapai SK yang terdiri dari beberapa KD, maka pembelajaran remedial dapat juga diberikan setelah peserta didik menempuh tes SK yang terdiri dari beberapa KD. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa SK merupakan satu kebulatan kemampuan yang terdiri dari beberapa KD. Mereka yang belum mencapai penguasaan SK tertentu perlu mengikuti program pembelajaran remedial.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar