Blog ini berisi tentang kiat menuju sukses Anda

Selasa, 13 April 2010

Rolet .Magnet Mempermudah Siswa menguasai Perkalian (pembelajaran Inovatif SLB/ SD )

Oleh : Siti Jaiyaroh, SDLB Cerme, Gresik
Sumber Jawa Pos Sabtu, 28 Februari 2009

Untuk menhindari kebiasaan menghafal perkalian yang tidak efektif,tidak bermakna, dan tidak relevan dengan tuntutan zaman,penulis menerpakan media pembelajaran inovatif yang dapat mengembangkan curiosity (rasa ingin tahu) siswa. Media itu ialah rolet magnet.

Rolet magnet merupakan alat permainan perkalian yang menggunakan prinsip tebakan . Ia terdiri dari dua lapis mika besar kecil yang diwarnai,berbentuk bulat seperti jam,dan bisa diputar. Setiap lapisan bertuliskan angka 1 hingga 10. Tepat ditengahnya disiapkan tempat yang dilengkapi dengan magnet.

Ada kantong pilihan yang berupa kartu-kartu bilangan yang merupakan kemungkinan jawaban atas perkalian.Bagian belakang kartu dengan jawaban salah ditempeli lempeng aluminium atau logam lain yang tidak menempel pada magnet. Kartu dengan jawaban benar ditempeli lempeng logam yang bisa menempel pada magnet. Dengan demikian,jika siswa mengambil kartu blangan yang salah,kartu tersebut aka jatuh. Sebaliknya, jika siswa mengambil kartu bilangan yang jawabannya benar, kartu itu akan tetap menempel pada rolet magnet.

Senin, 12 April 2010

Peningkatan Kemampuan Membaca Teks Report Bahasa Inggris dengan Weblog (inovasi pembelajaran )

Oleh Budi Sulistijanto (Guru SMPN I Sidayu Gresik)
Sumber : Jawa Pos, Jamis 12 Februari 2009

Membaca adalah salah satu skill yang harus dikuasai siswa dalam mempelajari bahasa Inggris.Kenyataannya,siswa sering mengalami kesulitan dan kurang tertarik membaca.Penyebabnya antara lain,kurangnya pemahaman kosa kata siswa,teknik pengajaran guru yang kurang bervariasi,banyaknya siswa yang tidak memiliki kamus,dan media pembelajaran yang tidak interaktif

Peneliti membuat inovasi pembelajaran dengan menggunakan media weblog pada pembelajaran membaca.Weblog dipilih penulis dengan asumsi bahwa murid akan lebih tertarik utnuk membaca dan dapat menjawab pertanyaan dengan benar sehingga mereka dapat memahami bacaan dengan lebih baik. Selain itu,weblog dipilih untuk merespon anjuran Menkominfo ,M.Nuh yang meminta para blogger dapat menjadikan blog sebagai sarana edukasi.

Keunggulan media weblog,diantaranya,mudah dibuat, murah, dapat diakses siswa dari rumah,lebih intaraktif karena siswa dapat melihat sumber aslinya,dan tersedianya kamus online.Kontenyang dapat diakomodasi dalam blog, antara lain file gambar,suara, dan video.Dengan demikian, blog tidak membosankan karena tidak hanya tulisan.

Secara garis besar,hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan, dengan media weblog dalam pembelajaran membaca siswa kelas 9, kemampuan membaca siswa meningkat.Hasil ketuntasan belajar siswa sebelum menggunakan weblog adalah 64 persen..Setelah pembelajarn dengan media weblog,didapatkan hasil siklus I adalah 82 persen, sedangkan siklu ke-2 ialah 93 persen.Karena itu,blog merupakan salah satu media pembelajaran yang strategis untuk meningkatkan proses pembelajaran yang aktif dan interaktif pada ketrampilan membaca.

Papan Sampah,Sarana Melatih Tanggung Jawab (pembelajaran inovatif di SD )

Oleh : Imam Syafii (guru PKn, SD Al-Hikmah Full Day School Surabaya )
Sumber Jawa Pos, Jumat 20 Februari 2009

Karya ini membahas pembelajaran sikap tanggung jawab siswa ,membuang sampah pada tempatnya dengan memanfaatkan media papan sampah siswa, sebagai upaya mengaplikasikan pembelajaran PKn siswa SD kelas I.Media papan sampah dibuat dari gabung berukuran 60x85 cm persegi, dengan dilapisi kertas manila yang bertuliskan nama-nama panggilan semua siswa dalam satu kelas. Setiap tulisan nama panggilan disediakan pulpen yang diikat dalam gantungan media papan sampah siswa. Pada sisi kiri papan sampah siswa, disediakan format sampah kutemukan. Pada sisi kanan, disediakan format sampah kubuang.

Model pembelajarannya ini menitikberatkan pada konsep saling mengingatkan antar teman di kelas untuk bertanggung jawab membuang sampah pada tempatnya. Jika seorang siswa menemukan sampah di wilayah di tempat duduk temannya,siswa pertama mengambil sampah tersebut, kemudian menempelkan sampah pada media papan sampah yang bernama siswa kedua.Siswa pertama memberikan tanda garis pada format “sampah kutemukan” di sisi kiri media papan nama siswa.

Mengetahui ada sampah di tempelkan pada papan namanya,dia membuangnya ke tempat sampah.Lantas dia memberikan tanda garis pada format “sampah kubuang”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media papan sampah siswa efektif dalam melatih tanggung jawab siswa membuang sampah pada tempatnya.

Minggu, 11 April 2010

“Cari dan Jawab”Teknik Pembelajaran Bahasa Inggris Menyenangkan ( Inovasi Pembelajaran )

Oleh :Anis Dian Hartini ( Guru SMAN 2 Bojonegoro )
Sumber Jawa Pos , Minggu 8 Maret 2009

Teknik “ cari dan jawab “ (serch and anwer ) adalah suatu metode pembelajaran bahasa Inggris untuk mengembangkan ketrampilan membaca siswa di tingkat SMA atau sederajat (jika mungkin SMP ). Pada prinsipnya,teknik ini memanfaatkan artikel-artikel dari Koran atau surat kabar berbahasa Inggris.

Dengan teknik ini gurudiharapkan tidak hanya mampu mengubah suasana kelas yang membosankan menjadi menyenangkan.Tetapi,guru juga bisa meningkatkan teknik dan kecepatan membaca siswa.Selain itu,dengan teknik ini,siswa tidak sekadar mencari informasi dari kegiatan membacanya,
.Tetapi juga mendapat kesenangan,karena merasa terlibat dalam permainan kelompok.

Memang bagi sebagian besar guru bahasa Inggris,mengajarkan dan mengembangkan ketrampilan membaca (reading sklill) bisa jadi merupakan pekerjaan yang melelahkan dan membosankan.Demikian juga siswa.Mereka acapkali mengeluh ketika harus berhadapan dengan wacana berbahasa Inggris.Penyebabnya,mereka merasa tidak mampu memahami wacana tersebut. Banyaknya kosakata asing yang mereka temukan di wacana dan ketidaktahuan mereka akan teknik membaca yang tepat adalah dua dari sekian banyak alasan yang sering dikeluhkan.

Kondisi seperti itu mendorong siswa untuk sangat bergantung kepada kamus dan menjadikan mereka pembaca yang pasif, pembaca yang enggan berpikir kritis dan akurat. Ketidak kreatifan guru untuk selalu berusaha mencari teknik pembelajaran yang menarik dan menyenangkan menambah rumit masalah itu.Dengan demikian tidaklah mengherankan apabila kegiatan pembelajaran membaca di kelas sering dipandang siswa sebagai kegiatan yang tidak menarik dan menjemukan.

Melalui artikel ini, saya mencoba berbagi pengalaman terutama dengan sesame guru bahasa Inggris SMA atau yang sederajat di dalam upaya menciptakan teknik pembelajaran yang menarik.Mungkin saja ini, bisa digunakan sebagai teknik alternative untuk kegiatan pembelajaran membaca,yaitu melalui “teknik cari dan jawab “.Pada prinsipnya teknik ini melatih siswa memecahkan masalah dalam kelompok dengan memanfaatkan atau dengan bantuan artikel-artikel dari Koran berbahasa Inggris.

Meski mereka tampaknya diajak bermain dalam kelompok, sejatinya mereka belajar bagimana bekerja sama dengan orang lain.Bagaimana memilih dan menggunakan teknik membaca yang tepat sekaligus ditantang berkompetisi dengan kelompok-kelompok lain dalam hal membaca cepat dan tepat.. Ini sesuai dengan yang ditulis Brown (1994) dalam Teaching by Principles yang menyatakan “ a classroom activity implies some sort of active performance on the part of learnes” (kegiatan di kelas menunjukkan tampilan aktif si pembelajar ).

Bagaimana menerapkan teknik itu di kelas ?.untuk menerapkannya ,kelas harus dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil.Masing-masing terdiri atas empat atau lima orang,kelompok-kelompok tersebut kemudian diberi nomor.Misalnya, kelompok1, kelompok2, dan seterusnya..Setelah itu siswa diminta duduk sesuai kelompok masing-masing,dan setiap kelompok diberi satu set Koran berbahasa Inggris.Kemudian, semua kelompok diminta membuka nomor halaman Koran sesuai dengan nomor kelompoknya.

Contohnya, kelompok 1, membuka halaman satu, kelompok2, halaman 2, kelompok 3 halaman 3,dan seterusnya.Setelah itu semua kelompok diminta memilih satu artikel di halaman tersebut dan membacanya.Kemudian bersama dengan anggota kelompoknya,setiap kelompok harus membuat lima pertanyaan tentang artikel yang baru dibacanya, dan menuliskan kelima pertanyaan tersebut di atas kertas manila.Setiap kelompok diberi kesempatan presentasi di depan kelas dengan menempelkan kertas manila tersebutdi papan tulis.

Ketika kelompok 1, yang melakukan presentasi,kelompok –kelompok lain harus membuka halaman 1.Ketika kelompok 2, yang presentasi, kelompok-kelompok lain harus membuka halaman 2, dan seterusnya.Dengan membaca pertanyaan-pertanyaan di papan tulis,kelompok-kelompok lain diminta mencari artikel mana yang dimaksud oleh kelompok penyaji.Setelah berhasil menemukan artikel yang dimaksud,segera mungkin membacanya untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Bibliokonseling,Layanan BK Tanpa Risi (Inovasi pembelajaran BK )

Oleh : Beta Nur Bety Tsany (Guru MTSN,Balen Bojonegoro
Sumber Jawa Pos,Rabu, 11 Maret 2009

Pencapaian tujuan pendidikan di sekolah sesungguhnya merupakan tugas bersama guru mata pelajaran,guru bimbingan dan konseling,serta tenaga pendidik lain di sekolah.Di Negara maju,fungsi pengembangan sekolah telah terpusat pada layanan bimbingan dan konseling (BK).

Program-program sekolah didasarkan data yang diperoleh BK dari siswa.Sebab informasi tersebut selain up to date seiring dengan perkembangan individu (siswa) yang setiap saat selalu mengalami perubahan kejiwaan dan membutuhkan aktualisasi serta respons positif dari lingkungannya.

Di sekolah,BK memiliki fungsi pengembangan,perbaikan,pemeliharaan kondisi positif,serta pemahaman dan pengentasan masalah siswa.Fungsi itu diterapkan dalam berbagai layanan,antara lain,layanan informasi,orientasi,bimbingan kelompok,dan konseling individu.BK membina siswa dalam berbagai aspek pribadi,pengembangan diri,social dan karir.

Dalam praktik sehari-hari berbagai kendala dihadapi guru dalam membimbing siswa.Banyak metode digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut.Dari pendekatan Behavior,humanistickognitif, hingga sibermetic.

Salah satu alternative pendekatan yang saat ini mulai dikaji adalah bibliokonseling.Yakni pendekatan bimbingan dan konseling dengan menggunakan informasi atau pengetahuan yang terdapat dalam buku pustaka.

Dengan menggunakan buku bacaan sebagai “alat” untuk membantu siswa,guru BK punya ribuan alternative bantuan untuk membimbing siswa,khususnya yang mengalami masalah.Dari komik,buku cerita,artikel dari Koran atau majalah,novel,teenlit,hingga buku yang tergolong berat seperti tulisan ilmiah,semua dimanfaatkan.

Untuk siswa yang cenderung sulit membaca buku teks,guru BK bisa memilihkan komik atau cerpen yang disukai siswa.Buku bacaan yang ditunjuk harus sesuai dengan masalah siswa.Dengan demikian,setelah membaca buku tersebut,siswa terbantu menyelesaikan masalah yang dihadapi.Selain itu,buku yang digunakan harus sesuai dengan usia perkembangan siswa,sehingga bahasa dalam buku tersebut dapoat dipahami dengan mudah.

Dengan menggunakan buku sebagai media untuk membantu siswa,guru dapat menghindari kemungkinan munculnya kesenjangan yang terjadi. Misalnya siswa mengalami masalah yang berhubungan dengan anatomi tubuhnya.Kendala bisa timbul bila siswa dan guru BK berjenis kelamin beda.Kendala seperti ini tak perlu muncul dalam bibliokonseling.Dari buku yang diberikan oleh guru BK,siswa terbantu mendapatkan informasi lengkap tanpa harus merasa risi atau malu.

Kelebihan lain bibliokonseling adalah siswa merasa lebih aman.Bagi kebanyakan siswa,pemanfaatan buku bacaan untuk mencari alternative solusi atas masalah yang dihadapi tanpa kawatir masalahnya diketahui oleh orang lain.

Belajar IPA Sistem Belanja ( inovasi Pembelajaran SMP )

Ole: Haryaningtyas (guru SMP Darul Madinah Madiun )
Sumber :Jawa Pos Selasa 3,Februari 2009

IPA termasuk mata pelajaran yang dianggap sulit,menakutkan,tidak ada komunikasi verbal dua arah,dan sering diikuti dengan terpaksa.Akibatnya ,siswa tidak mampu menunjukkan kemampaun maksimal,kecuali yang memang tertarik belajar IPA.

Karena itu diperlukan inovasi strategi pembelajaran yang mampu menampung keinginan siswa.Bagaimana,apa,dan kemana siswa siswa belajar IPA ?.Dengan begitu,tumbuh motivasi siswa untuk mengenal IPA lebih jauh.

Keinginan itulah yang melatari niat penulis melahirkan strategi agar pembelajaran IPA diterima siswa dengan rasa suka,,proses pembelajaran IPA menjadi menyenangkan,dan muncul inovasi baru dari siswa.

Dalam strategi tersebut,siswa dilibatkan sejak awal,tengah hingga akhir pembelajaran.Siswa diajak”berbelanja” paket-paket IPA untuk dikonsumsi bersama atas keinginan sendiri.Siswa terus terlibat dalam apa dan bagaimana mereka beajar IPA.Inovasi itu disebut “Sistem Belanja Paket”.Sebab strategi yang digunakan mengambil prinsip jual beli di pasar atau supermarket.

Kegiatan tersebut meliputi dua tahap :
Tahap pertama diaksanakan di awal pertemuan semester dan tahap kedua di awal kegiatan pada tiap tatap muka.Guru melibatkan siswa untuk bersama-sama berbelanja paket-paket SK,KD materi pokok yang tersedia,diurutkan,ditata rapid an dikonsumsi selama satu semester.

Tentu ketikamenyantap aket-paket belanjaannya siswa merasa lebih nikmat karena barang-barang itu adalah pilihan mereka sendiri.Dalam hal memilih paket belanja yang berisi SK,KD dan materi pokok,guru tetap member arahan dan penguatan.Terutama SK,KD dan materi pokok mana yang saling berhubungan dan mana yang bisa saling lepas.Juga SK,KD,dan materi pokok mana yang perlu mendapat perhatian khusus.

Tentu pilihan siswa tidak sama.Namun setelah proses kunjung karya dan diskusi klasikal,biasanya ada persamaan pilihan dan minat dalam menyusun urutan SK,KD dan materi pokok selama satu semester.Guru tinggal membimbing untuk membuat kesimpulan dan kesepakatan bersama guna dilaksanakan dalam proses belajar mengajar IPA di kelas.

Tahap kedua,yang dilakukan di awal proses pembelajaran tiap tatap muka.,masih terkait dengan tahap sebelumnya.Urutan pertemuan disesuaikan dengan materi yang dipilih siswa.

Sistem belanja tersebut diberlakukan pada awal kegiatan,yang dalam RPP masuk bagian motivasi dan apersepsi.Dalam 10-15 menit,siswa dipersilahkan berbelanja paket-paket berisi indikator,kegiatan pembelajaran dan penilaian yang akan menjadi “bahan masakan” dalam proses pembelajaran dalam tatap muka saat itu.Dengan demikian siswa merasa terlibat untuk menentukan ,apa,bagaimana, dan kemana proses pembelajaran yang dijalani.

Dalam system belanja itu,guru dituntut kreatif.Sebab dalam tiap tatap muka,guru harus menyediakan “paket-paket belanjaan” yang harus dibeli siswa.Guru harus juga meyiapkan semua perangkat dari semua paket belanjaan.

Pertanyaannya,mungkin, mengapa “paket belanjaan “ harus diberikan awal pembelajaran pada setiap tatap muka ?..Pertimbangannya,saat KBM terjadi,kondisi siswa tidak sama.Bisa jadi,pada waktu tertentu,siswa ingin belajar di kelas, di laboratorium, bahkan ingin belajar di kantin.Kondisi inilah yang mendapat perhatian dalam proses pembelajaran.Guru tak hanya menuntut siswa memahami apa yang disampaikan,tanpa melihat aspek dari pribadi siswa.

Sistem belanja inisangat membantu guruuntuk mengetahui bagaimana kondisi siswa saat KBM berlangsung,sehingga mempermudah peyampaian materi dan proses penilaian.Berdasar beberapa pertemuan yang sudah penulis uji cobakan,hasil evaluasi akhir menunjukkan prestasi siswa meningkat.Minat terhadap pelajaran IPA juga terus naik,indikasinya,siswa mulai bertanya,”Kapan kita belanja lagi ? “.Akhirnya,terjadi peningkatan proses pemahaman siswa tentang, apa,bagaimana,dan mau kemana belajar IPA.

Pembelajaran dengan Model Problem Based Learning (PBL).Belajar PKn Lebih Demokratis

Oleh :Erfina Fuadatul Khilmi (GTT SMK Analis Kesehatan Negeri Jember )
Sumber : Jawa Pos, Selasa 21 Februari 2009

Menciptakan situasi kelas yang inspiratif,interaktif,dan menyenangkan dalam pembelajaran PKn, tidaklah mudah.Sebagian besar siswa masih masih menganggap PKn sebagai pelajaran yang mementingkan hafalan.Pengetahuan yang diberikan guru dianggap kurang memberdayakan potensi kognitif,afektif dan psikomotorik siswa secara optimal.

Untuk mengubah anggapan tersebut,guru dituntut memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk mencari strategi pembelajaran kreatif yang melibatkan siswa secara aktif dengan mengutamakan penguasaan kompetensi.Rumusannya mengembangkan karakter yang cerdas dan budaya nalar terhadap konsep,nilai serta peilaku demokratis warga Negara.

Sebagai proses pencerdasan,pendekatan pembelajaran PKn harus memungkinkan suasana kelas menjadi lebih inspiratif dengan pelatihan penggunaan logika serta penalaran.Guru bisa memberikan pembelajaran yang digali dari fenomena yang terjadi di lingkungan masyarakat sebagai pengalaman langsung.

Salah satu alternative yang bisa diterapkan guru untuk meningkatkan kualitas dan hasil pembelajaran PKn adalah pembelajaran dengan model problem based Learning (PBL),pembelajaran berbasis masalah.Misalnya pemecahan masalah korupsi yang sampai sekarang masih ramai dibicarakan dan menjadi isu sentral dalam pemerintahan,media dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Sebelum pembelajaran dilakukan siswa mengamati secara mendalam fenomena korupsi yang sering dilakukan aparatur Negara yang dilakukan secara korporasi (kejahatan korporasi).Lalu siswa diminta mencatat permasalahan yang muncul.Disini siswa dituntut mencari dan menemukan masalah.Misalnya,latarbelakang,factor-faktor yang mendorong munculnya korupsi,dan upaya pemberantasan korupsi.

Dari permasalahan itu, siswa mmendiskusikan,mencari dan menemukan pemecahan melalui proses bertanya kepada guru,kerja kelompok, atau belajar berdasar buku serta media yang membahas korupsi.Peran guru adalah menstimulasi siswa untuk berpikir kritis dan kreatif dengan mengarahkan mereka untuk bertanya atau berpendapat.

Sebagai contoh,apakah penegak hukum yang lemah dan pengawasan penyelenggaraan Negara yang dilakukan secara tidak independen mendorong orang melakukan korupsi ?.Siswa harus membuktikan pendapat itu berdasar fakta-fakta.Guru mendengarkan pendapat berbeda diantara mereka.Tindakan itu mengajari sekaligus menerapkan cara hidup demokrasi berbasis diskusi kelas.Dari sini akan tumbuh cara pandang multiperfektif dengan pemikiran yang luas terhadap sebuah fakta.

Melalui proses diskusi ini,siswa bisa merefleksikan ide serta harapan yang ingin dipeolehnya dengan kenyataan.Dengan demikian,peningkatan hasil belajar yang dicapai bukan sekedar hasil menghafal materi,melainkan lebih pada kegiatan nyata (pemecahan kasus ) yang dikerjakan siswa saat proses pembelajaran (diskusi kelas atau diskusi kelompok).

Pembelajaran Problem Based Learning harus didukung profesionalisme dan kompetensi guru. Tanpa dua hal itu,metode pembelajaran terbaik pun tidak akan berarti dalam meningkatkan kualitas belajar siswa.Performan guru yang percaya diri akan melecut semangat siswa