Blog ini berisi tentang kiat menuju sukses Anda

Minggu, 28 Maret 2010

Strategi Pembelajaran Afektif ( nilai Sikap )

Hakikat Pendidikan Nilai dan Sikap

Nilai adalah suatu konsep yang berada dalam pikiran manusia yang sifatnya tersembunyi,tidak berada di dalam dunia yang empiris.Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk,indah dan tidak indah, dan lain sebagainya.Dengan demikian pendidikan nilai pada dasarnya proses penanman nilai kepada peserta didik yang diharapkan,oleh karenanya siswa dapat berperilaku sesuai dengan pandangan yang dianggapnya baik dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.

Model Strategi Pembelajaran Sikap

Di bawah ini disajikan beberapa model strategi pembelajaran pembentukan sikap :
1. Model Konsiderasi
Model konsiderasi dikembangkan oleh MC.Paul,seorang humanis.Paulmenganggap bahwa pembentukan moral tidak sama dengan pengembangan kognisi yang rasional.Pembelajaran moral siswa menurutnya adalah pembentukan pembentukan kepribadian bukan pengembangan intelektual.Oleh sebab itu,model ini menekankan kepada strategi pembelajaran yang dapat membentuk kepribadian.Tujuannya adalah agar siswa menjadi manusia yang memiliki kepedulian terhadap orang lain.

Implementasi model konsiderasi guru dapat mengikuti tahapan-tahapan pembelajaran
seperti berikut:

a. .menghadapkan siswa pada suatu masalah yang mengandung konflik,yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.Ciptakan situasi”Seandainya siswa ada dalam masalah tersebut “
b. Menyuruh siswa untuk menganalisis sesuatu masalah dengan melihat bukan hanya yang tampak,tapi juga yang tersirat dalam permasalahan tersebut,misalnya perasaan,kebutuhan,dan kepentingan orang lain.
c. Menyuruh siswa untuk menuliskan tanggapannya terhadap permasalahan yang dihadapi.Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat menelaah perasaannya sendiri sebelum mendengar respons orang lain untuk dibandingkan.
d. Mengajak siswa untuk menganalisis respons orang lain serta membuat kategori dari setiap respons yang diberikan siswa.
e. Mendorong siswa untuk merumuskan akibat atau konsekuensi dari setiap tindakan yang diusulkan siswa.Dalam tahapan ini siswa diajak berpikir tentang segala kemungkinan yang akan timbul sehubungan dengan tindakannya.
f. Mengajak siswa untuk memandang permasalahan dari berbagai sudut pandang untuk menambah wawasan agar mereka dapat menimbang sikap tertentu sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
g. Mendorong siswa agar merumuskan sendiri tindakan yang harus dilakukan sesuai dengan pilihannya berdasarkan pertimbangannya sendiri.


2.Model Pengembangan Kognitif

Model pengembangan kognisi dikembangkan oleh Lawrence Kohlberg.Model ini banyak diilhami oleh pemikiran John Dewey yang berpendapat bahwa perkembangan manusia terjadi sebagai proses dari restrukturisasi kognitif yang berlangsung secara berangsur-angsur menurut urutan tertentu.Menurut Kolhberg,moral manusia itu berkembang melalui 3 tingkat ,dan setiap tingkat terdiri dari 2 tahap. “

a. Tingkat prakonvensional

Pada tingkat ini setiap individu memandang moral berdasarkan kepentingannya sendiri,Artinya pertimbangan moral didasarkan pada pandangan secara individual tanpa menghiraukan rumusan dan aturan yang dibuat oleh masyarakat,terdiri daridua tahap:
1. Orientasi hukuman dan kepatuhan
Artinya anak hanya berpikir bahwa perilaku yang benar itu adalah perilaku yang tidak akan mengakibatkan hukuman,dengan demikian setiap peraturan harus dipatuhi agar tidak menimbulkan konsekuensi negative.
2. Orientasi instrumental relative
Pada tahap ini perilaku anak didasarka pada perilaku adil,berdasarkan aturan permainan yang telah disepakati.


b. Tahap Konvensional
Pada tahap konvensional meliputi 2 tahap

3. Keselarasan interpersonal
Pada tahap ini ditandai dengan perilaku yang ditampilkan individu didorong oleh keinginan untuk memenuhi harapan orang lain.

4. System social dan kata hati
5. Pada tahap ini perilaku individu bukan didasarkan pada dorongan untuk memenuhi harapan orang lain yang dihormatinya.

c. Tingkat postkonvensional
Pada tingkat ini perilaku bukan hanya didasarkan pada kepatuhan terhadap norma-norma masyarakat yang berlaku,akan tetapi didasari oleh adanya kesadaran sesuai dengan nilai-nilai yang dimiliki secara individu.
6. Kontra social
Pada tahap iniperilaku individu didasarkan pada kebenaran-kebenaran yang diakui oleh masyarakat.
7. Prinsip etis yang universal
Pada tahap ini perilaku manusia didasarkan pada prinsip-prinsip universal.


Kesulitan dalam Pembelajaran Afektif

Pertama, selama ini proses pendidikan sesuai dengan kurikulum yang berlaku cenderung diarahkan untuk pembentukan intelektual.dengan demikian keberhasilan proses pendidikan dan proses pembelajaran di sekolah ditentukan oleh criteria kemampuan intelektual.

Kedua, sulitnya melakukan control karena banyaknya factor yang dapat mempengaruhi perkembangan sikap seseorang.

Ketiga,keberhasilan pembentukan sikap tidak bisa dievaluasi dengan segera. Berbeda dengan keberhasilan pembentukan kognisi dan aspek ketrampilan yang hasilnya dapat diketahui setelah proses pembelajaran berakhir.

Keempat,pengaruh kemajuan teknologi,khususnya teknologi informasi yang menyuguhkan aneka pilihan program acara,berdampak pada pembentukan karakter anak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar